estoria.id - Trauma akibat dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, rupanya tidak berhenti setelah para siswa mendapatkan perawatan medis.
Bagi sebagian korban, pengalaman tersebut meninggalkan ketakutan mendalam. Bahkan, makanan yang disajikan dalam wadah ompreng atau nampan kini menjadi sesuatu yang membuat mereka enggan makan.
Hal itu terungkap saat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengunjungi Rumah Sakit (RS) Efarina Etaham untuk melihat langsung kondisi para siswa yang masih menjalani perawatan.
Dari lebih dari 200 siswa di wilayah Berastagi dan Kabanjahe yang terdampak dugaan keracunan, sebanyak 64 anak disebut masih menjalani perawatan intensif hingga Minggu siang.
Di tengah kunjungan tersebut, salah seorang siswa mengungkapkan ketakutannya untuk kembali mengonsumsi makanan dari program MBG.
“Nggak mau lagi aku makan MBG, Pak!” ujar siswa tersebut kepada Sudaryono, dikutip dari akun instagram @berita+61 pada Senin (17/08/2026).
Ucapan singkat itu menggambarkan trauma yang masih dirasakan korban setelah mengalami dugaan keracunan makanan.
Bahkan, menurut keterangan orang tua korban, ketakutan tersebut juga muncul ketika anaknya mendapatkan makanan dari rumah sakit.
“Waktu dari rumah sakit memberikan makanan menggunakan ompreng, anak aku menolak. Dia bilang, ‘Beracun itu makanannya, Mak,’” ungkap orang tua siswa.
Sudaryono memahami kondisi tersebut. Menurutnya, trauma sangat mungkin dialami anak-anak maupun orang tua setelah kejadian yang membuat mereka harus mendapatkan perawatan medis.
“Kalau bicara trauma itu sudah pasti. Jangankan anaknya, orang tuanya saja pasti trauma,” kata Sudaryono.
Ia menegaskan bahwa saat ini perhatian utama pemerintah bukan sekadar mencari pihak yang bertanggung jawab, melainkan memastikan seluruh korban benar-benar pulih.
“Untuk saat ini, fokus saya paling utama adalah semua anak harus sehat. Mereka harus sembuh total dan mereka harus kembali sehat,” tegasnya.
Dugaan Keracunan Berasal dari Bahan Ikan
Dalam kunjungan tersebut, sejumlah orang tua juga menyampaikan keluhan terkait kondisi anak mereka yang belum kunjung membaik.
Sudaryono kemudian menjelaskan bahwa berdasarkan identifikasi sementara, dugaan keracunan berkaitan dengan bahan makanan berupa ikan yang disebut tidak disimpan di dalam freezer selama lebih dari 12 jam.
Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena menyangkut standar keamanan pangan dalam penyediaan makanan bagi para siswa.
BGN pun mengambil tindakan tegas. Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkaitan dengan penyediaan makanan tersebut telah ditutup.
Tak hanya menghentikan operasional dapur, kepala SPPG juga telah dicopot dari jabatannya dan disebut terancam diberhentikan.
“Ini sudah masuk klasifikasi berat karena ada kelalaian. Dapurnya sudah saya tutup, kepala SPPG sudah dicopot dan terancam pemecatan,” ujar Sudaryono.