estoria.id — Pernyataan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kalimantan Tengah (Kalteng) Muhammad Reza Prabowo mendadak menjadi sorotan setelah videonya beredar luas di media sosial.

 

Dalam video tersebut, Reza terlihat mengikuti rapat secara daring bersama sejumlah kepala sekolah dan guru. Pembahasan rapat diduga berkaitan dengan penyesuaian aktivitas belajar mengajar di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

 

Alih-alih meminta sekolah menghentikan kegiatan belajar, Reza justru menyampaikan agar aktivitas pendidikan tetap berjalan dengan sejumlah penyesuaian.

 

Salah satu bagian pernyataannya kemudian menjadi perhatian publik karena ia mengaitkan keputusan meliburkan sekolah dengan operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

 

“Karena ketika sekolah diliburkan, berpengaruh juga pada dapur-dapur MBG (mati). Kita mengerti, Bapak Ibu ya? Bapak Ibu saya harap baik-baik saja punya kebijaksanaan juga dapur MBG mati bu, kantin-kantin mati bu habis itu,” ujar sosok yang disebut sebagai Reza dalam video tersebut.

 

Pernyataan itu menjadi viral setelah salah satunya diunggah akun Instagram @lambe_turah.

 

Dalam rekaman yang beredar, Reza juga menyampaikan rencana penyesuaian jam masuk siswa. Ia mengatakan siswa akan masuk sekolah lebih siang dan durasi setiap jam pelajaran dipersingkat.

 

“Jadi, saya meminta kepada Bapak dan Ibu. Mohon nanti ini saya akan buatkan surat edaran. Masuknya jam 8 untuk adik-adik, gitu kan. Nanti pulangnya mungkin karena kita sudah setting di 30 menit tiap jam pelajaran,” katanya.

 

Namun, bukan hanya persoalan dapur MBG yang memancing perhatian. Reza juga menyinggung kemungkinan aktivitas siswa jika sekolah diliburkan.

 

Menurutnya, ketika anak-anak tidak masuk sekolah, sebagian di antaranya justru dikhawatirkan menghabiskan waktu di luar rumah.

 

“Belum lagi dampak ketika anak-anak diliburkan mereka yang harusnya mereka di rumah mereka ke kafe-kafe buat keributan, buat masalah. Iya. Nanti kita yang pusing, Bu. Habis itu nanti ada ini orang tuanya apa segala macam. Nah, ini pusing lagi kita, Bu,” ujarnya.

 

Pernyataan tersebut muncul ketika kabut asap akibat karhutla menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Dalam kondisi seperti ini, sekolah memang menghadapi dilema antara menjaga keberlangsungan proses belajar dengan memastikan kesehatan dan keselamatan siswa.

 

Penyesuaian jam masuk dan pengurangan durasi pembelajaran menjadi salah satu opsi yang disampaikan dalam rapat tersebut.

 

Meski demikian, bagian pernyataan yang menghubungkan aktivitas sekolah dengan keberlangsungan dapur MBG kemudian memicu reaksi warganet. Sebagian pengguna media sosial menilai kesehatan siswa semestinya menjadi pertimbangan utama ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

 

Komentar bernada kritik pun bermunculan di unggahan video tersebut.

 

MBG ITU LADANG KORUPSI, NGAPAIN SIH PADA GAK PERCAYA. GAK GUNA JUGA MBG, SEBELUM MBG ADA AJA, AMAN TUH KAMPUNG TENGAH,” tulis salah satu warganet.

 

“Seakan kepentingan MBG yang diprioritaskan bukan kesehatan siswa,” komentar pengguna lainnya.

 

Ada pula yang menyoroti keputusan mempertahankan aktivitas sekolah di tengah kondisi karhutla.

 

“Lebih mementingkan mikirin gimana MBG bisa berjalan ketimbang mikirin kondisi dan kesehatan anak di situasi kebakaran ini,” tulis warganet lainnya.

 

Muhammad Reza Prabowo sendiri merupakan pejabat yang baru ditetapkan sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kalteng secara definitif. Ia dilantik Gubernur Kalteng Agustiar Sabran pada 26 Mei 2026 di Istana Isen Mulang, Palangka Raya.

 

Sebelum definitif menduduki jabatan tersebut, Reza telah menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kalteng.

 

Hingga Senin (31/8/2026), potongan video pernyataan tersebut masih menjadi perbincangan di media sosial. Sorotan terutama tertuju pada kebijakan kegiatan belajar mengajar saat karhutla serta pernyataan yang menyinggung keberlangsungan dapur MBG apabila sekolah diliburkan.