estoria.id – Kritik tajam mengenai penguasaan kekayaan alam Papua disampaikan Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu. Ia menyoroti kondisi masyarakat lokal yang dinilai belum menjadi pihak utama yang menikmati kekayaan hutan di wilayahnya sendiri.

 

Pernyataan itu disampaikan Kambu secara terbuka di hadapan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat menghadiri Papua Action for Development, Economy, and Sustainable Nature (PAPEDA Summit) 2026 di Gedung L Jitmau, Kota Sorong, Jumat (4/9/2026).

 

Dengan nada tegas, Kambu menggambarkan Papua sebagai wilayah yang kaya sumber daya alam, tetapi masyarakatnya justru berada di posisi yang menurutnya tidak sebanding dengan kekayaan yang dimiliki.

 

“Kami tinggal di Papua, tapi hutan ini sudah habis. Habislah ini, orang-orang Jakarta yang punya hutan ini,” kata Kambu.

 

Ia kemudian menyebut kelompok berpengaruh hingga konglomerat sebagai pihak yang menurutnya memiliki hutan di Papua.

 

“Jenderal punya hutan, konglomerat punya hutan. Orang Papua nggak punya, kita cuma numpang ini,” sambungnya.

 

Kalimat “kita cuma numpang” menjadi bagian paling mencolok dari pernyataan Kambu. Sebab, ia sedang berbicara mengenai masyarakat yang hidup di tengah kekayaan alam Papua, tetapi menurutnya belum memiliki kendali maupun manfaat yang sepadan atas sumber daya tersebut.

 

Kambu juga menyebut Papua sebagai wilayah yang “seksi” untuk kepentingan pengambilan hasil hutan. Namun, di tengah eksploitasi kekayaan alam itu, ia mempertanyakan posisi masyarakat Papua.

 

Bagi Kambu, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut hutan, melainkan juga tentang siapa yang mendapatkan manfaat dari kekayaan alam Papua dan siapa yang justru hanya menyaksikan dari dekat.

 

Sorotan itu disampaikan langsung di hadapan Zulhas. Pernyataan Kambu pun membuka kembali perdebatan mengenai pengelolaan sumber daya alam Papua, khususnya soal keterlibatan masyarakat lokal dalam menikmati hasil kekayaan alam di wilayahnya sendiri.