estoria.id – Asap dan kobaran api yang terus menghantui Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, membuat relawan pemadam kebakaran angkat bicara. Mereka mengaku hampir setiap hari berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), namun harus bekerja dengan peralatan yang serba terbatas.

 

Keluhan itu disampaikan Hasan, Ketua Umum Bumi Selamat Rescue 690 Kabupaten Banjar, melalui sebuah video yang ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto melalui akun Instagram @kbk.news yang diunggah pada 10 September 2026.

 

Dalam video tersebut, Hasan tampak berdiri bersama sejumlah relawan pemadam kebakaran swasta yang selama ini terlibat langsung dalam penanganan karhutla di Kabupaten Banjar.

 

Ia menggambarkan kondisi di lapangan yang menurutnya sudah tidak baik-baik saja.

 

“Bapak Presiden, saya ingin sedikit menyampaikan bahwa kondisi di Kabupaten Banjar tidak baik-baik saja. Kawan-kawan yang ada di kiri kanan saya baru selesai menyelesaikan pemadaman karhutla, yang mana hampir setiap hari kita melaksanakan seperti ini,” ujar Hasan.

 

Menurut Hasan, data yang dilaporkan BPBD Kabupaten Banjar kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan terdapat 454 kejadian kebakaran di wilayah tersebut.

 

Angka itu, kata dia, menjadi yang tertinggi dibandingkan 13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.

 

“Data di Kabupaten Banjar yang selalu dilaporkan dari BPBD Kabupaten Banjar kepada Provinsi Kalimantan Selatan, kita Kabupaten Banjar kejadian kebakaran 454 titik sampai hari ini. Yang mana terbanyak daripada 13 kabupaten kota,” katanya.

 

Namun, Hasan mengaku kecewa setelah mengetahui nama Kabupaten Banjar tidak tercantum dalam laporan proposal penanganan karhutla yang diajukan melalui Kementerian Kehutanan kepada Presiden.

 

“Setelah kita berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Banjar, mereka memberikan kita hasil laporan proposal dari Kementerian Kehutanan untuk Bapak Presiden. Tapi nama Kabupaten Banjar tidak ada, Pak,” ucapnya.

 

Relawan Bekerja dengan Peralatan Minim

 

Hasan menegaskan, para relawan tidak menuntut imbalan atas pekerjaan mereka. Mereka turun ke lapangan semata-mata untuk membantu masyarakat yang terdampak kebakaran.

 

Persoalannya, kemampuan relawan untuk melakukan pemadaman semakin terbatas karena minimnya peralatan.

 

“Kami di sini berdiri untuk membantu masyarakat Kabupaten Banjar, tidak mengharapkan imbalan. Tapi peralatan yang kami gunakan sangat minim, Pak,” ujar Hasan.

 

Keterbatasan itu membuat para relawan harus mengandalkan dukungan masyarakat sekitar, termasuk untuk kebutuhan makanan ketika menjalankan tugas di lapangan.

 

“Kami makan dibantu oleh masyarakat sekitar yang kami bantu,” katanya.

 

Menurut Hasan, kebakaran juga telah merambah sejumlah wilayah kecamatan lain. Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, bukan hanya mengandalkan relawan.

 

“Daerah di kecamatan yang lain juga terdampak sangat besar, Pak. Padahal kita tahu penanganan karhutla ini penyelesaiannya harus bersama-sama,” ujarnya.

 

Hasan kemudian menyampaikan keresahan para relawan mengenai apa yang dia sebut sebagai ketidakadilan dalam penanganan karhutla.

 

Ia berharap pemerintah memberikan perhatian yang sama kepada Kabupaten Banjar, terlebih ketika wilayah tersebut disebut mencatat kejadian kebakaran terbanyak.

 

“Tapi seolah-olah tidak mendapatkan keadilan. Berharap banyak, Pak. Kami cuma minta keadilan sama rata. Kami juga masyarakat Republik Indonesia,” tegasnya.

 

Melalui video tersebut, Hasan berharap Presiden Prabowo mendengar langsung suara para relawan yang selama ini berada di garis depan menghadapi kebakaran.

 

“Mudah-mudahan dengan video ini Bapak Prabowo bisa mendengar langsung keluh kesah kami yang ada di lapangan,” katanya.

 

Hasan juga meminta agar para relawan tidak diseret ke dalam kepentingan politik. Menurutnya, persoalan karhutla merupakan masalah kemanusiaan dan lingkungan yang harus ditangani bersama.

 

“Kalau memang ada kepentingan politik dari bapak ibu di luar sana, tolong jangan dilibatkan kami. Kami hanya ingin merasakan udara segar kembali,” ucapnya.

 

Ia mengaku pihaknya telah berulang kali melakukan koordinasi terkait kondisi tersebut. Namun, menurut Hasan, berbagai upaya tersebut belum sepenuhnya memberikan hasil yang diharapkan.

 

Di akhir pernyataannya, Hasan justru menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Kabupaten Banjar atas keterbatasan pelayanan para relawan pemadam.

 

“Dan yang terakhir untuk masyarakat Kabupaten Banjar, ulun meminta maaf. Ulun mewakili seluruh pemadam yang ada di Kabupaten Banjar jikalau pelayanan kami kurang. Kami belum bisa memberikan udara yang segar,” ujar Hasan sebelum mengakhiri videonya.