Di balik kiprahnya sebagai aktor, Diding juga dikenal sebagai sosok pendidik yang mencintai dunia seni. Hingga akhir hayatnya, ia tetap meluangkan waktu mengajar anak-anak di Sanggar Perkasa, mewariskan pengalaman dan kecintaannya terhadap seni kepada generasi penerus.
Awal 2026, kondisi kesehatannya sempat menurun akibat penyakit asma yang telah dideritanya selama beberapa tahun. Ia bahkan menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah mengalami gangguan pernapasan. Diding pernah mengungkapkan bahwa penyakit tersebut diduga mulai muncul usai menjalani proses syuting film horor yang berlangsung selama berbulan-bulan di hutan dengan dominasi adegan malam dan penggunaan efek asap buatan.
Dalam pesan belasungkawa, Sanggar Perkasa menyampaikan penghormatan terakhir kepada sosok yang mereka panggil Opa Diding. Mereka menyebut dedikasi, ilmu, dan semangat yang diwariskan almarhum akan terus hidup melalui karya serta perjalanan anak-anak didiknya.
Kepergian Diding Boneng menutup perjalanan panjang seorang seniman yang telah menghibur masyarakat Indonesia selama lebih dari empat dekade. Namun, karya, keteladanan, dan pengabdiannya terhadap dunia seni akan tetap dikenang lintas generasi.