“Satir itu doa yang disampaikan lewat tawa. Orang boleh marah, tapi semoga setelah tertawa, mereka lebih waras melihat dunia.”

“Kalau seni hanya membuat orang tertawa, ia berhenti di tawa. Tapi kalau seni bisa membuat orang tertawa lalu berpikir, di situlah seni menemukan martabatnya.”

Butet Kartaredjasa


SOSOK, ESTORIA.ID – Di Yogyakarta, ada seorang anak yang tumbuh di tengah panggung, cat minyak, dan denting gamelan. Namanya Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa, lahir pada 21 November 1961.

Ia putra dari maestro tari dan pelukis Bagong Kussudiardja, serta Soetiana, seorang ibu yang menyiapkan rumah agar tetap kokoh di tengah riuhnya dunia seni.

Butet tidak bisa memilih lahir dari rahim seni, tapi ia bisa memilih caranya menafsirkan seni itu sendiri. Jika Bagong menari dengan tubuhnya, Butet memilih melenturkan lidah.

Sejak remaja, Butet sudah terlibat dalam komunitas teater. Dari Teater Kita-Kita (1977), Sanggar Bambu (1978–1981), Teater Dinasti (1982–1985), hingga akhirnya berlabuh di Teater Gandrik (1985).

Teater Gandrik adalah sebuah kelompok teater satir yang lahir dari rahim mahasiswa dan budayawan Yogya. Di sini, ia menemukan medan yang tepat untuk menyalurkan bakat akting sekaligus kritik sosial.

Namun, yang membuat Butet berbeda bukan hanya aktingnya, melainkan keberaniannya mengubah humor menjadi senjata kritik.

Lidah yang (Tidak Pernah Benar-benar) Pingsan

Butet melejit lewat monolog berjudul Lidah Pingsan (1997). Pementasan ini ditulis oleh Agus Noor dan Indra Tranggono, dengan musik dari adiknya, Djaduk Ferianto.