Dengan gaya Jawa alus bercampur ceplas-ceplos, Butet tampil sebagai “wong cilik” yang mempertanyakan absurditas kekuasaan.

Tayangan ini kemudian menjadi ruang belajar politik publik di tengah minimnya literasi politik pascareformasi.

Tidak heran, banyak penonton menganggap Butet sebagai “oposisi yang selalu tersenyum.”

Buku, Kolom, dan Presiden Guyonan

Pada 2008, Butet menerbitkan buku Presiden Guyonan, kumpulan sketsa sosial dari kolom mingguan yang ia tulis. Buku itu diluncurkan bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-47.

Uniknya, Butet menyerahkan buku tersebut secara simbolik kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono; sebuah gestur satir yang mempertemukan “presiden asli” dengan “presiden guyonan.”

Buku itu menegaskan bahwa satir Butet tidak berhenti di panggung. Ia hadir di media cetak, mengisi kolom, dan terus berusaha menyalakan akal sehat publik.

Film dan Layar Lebar

Meski teater adalah rumah utamanya, Butet tidak asing dengan film. Ia mencatatkan diri dalam sejumlah produksi populer, seperti:

  • Petualangan Sherina (2000) — sebagai Pak Raden
  • Soegija (2012) — nominasi FFI Pemeran Pendukung Pria Terbaik
  • Jailangkung (2017)
  • Abracadabra (2020)
  • Gatotkaca: Satria Dewa (2022)

Kehadirannya di layar lebar menegaskan fleksibilitasnya sebagai aktor: bisa serius, bisa komikal, tapi selalu otentik.

Warisan Padepokan

Sebagai putra Bagong, Butet memikul tanggung jawab menjaga Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK).

Padepokan ini merupakan ruang seni, ekosistem tempat seniman muda berkarya lintas disiplin.