Pentas digelar di Societet, Taman Budaya Yogyakarta, hanya beberapa bulan sebelum krisis moneter dan keruntuhan Orde Baru.
Tema yang diangkat sederhana, tapi menusuk: lidah, sebagai simbol komunikasi, kuasa, sekaligus pengkhianatan.
Monolog ini bicara tentang relasi antara media, politik, dan kebenaran di sebuah negeri yang tengah dilanda represi.
Dari panggung itu, Butet menemukan panggilannya: menjadi suara satir bagi publik yang lidahnya dipaksa diam.
Julukan “Raja Monolog” pun dilekatkan oleh Romo Mangunwijaya dalam sebuah catatan Kompas (1998).
Sejak itu, lahirlah serial monolog politik yang legendaris:
- Lidah (Masih) Pingsan (1998)
- Mayat Terhormat (2003)
- Matinya Toekang Kritik (2006)
- Presiden Guyonan (2008)
Di setiap pementasan, Butet tidak hanya menghibur. Ia menggelitik, menyentil, sekaligus menyampaikan kritik tajam tanpa kehilangan kelucuan.
Antara Sentilan, Sentilun, dan Republik Satir
Jika panggung teater memberi Butet audiens terbatas, televisi menghadirkan panggung yang lebih luas.
Program Sentilan–Sentilun, kemudian berkembang menjadi Republik Sentilan Sentilun di Metro TV, menjadi ikon satir politik Indonesia 2000-an.
Formatnya sederhana: dua tokoh dialog. Ndoro Sentilan (Slamet Rahardjo) dan Sentilun (Butet). Keduanya berdebat soal isu politik aktual.