Lingkungan itu melatihnya untuk berpikir kritis, menghargai argumen, dan memahami bahwa kata-kata memiliki bobot moral.

Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Awalnya, ia membayangkan karier sebagai pengacara. Namun, pengalaman magang di Divisi Berita RCTI membuatnya jatuh hati pada dunia jurnalistik.

Ia menemukan bahwa hukum berbicara di ruang sidang, sementara jurnalisme berbicara langsung ke hati masyarakat. Dari situ, jalur hidupnya berubah.

Tahun-tahun Pembentukan di Metro TV

Pada 2000, Najwa bergabung dengan Metro TV yang baru berdiri. Di stasiun berita itu, ia ditempa dalam atmosfer yang menuntut kecepatan, akurasi, dan ketajaman.

Dalam waktu singkat, ia menonjol di antara reporter muda lain. Penugasan demi penugasan ia jalani dengan dedikasi penuh, hingga akhirnya ia dipercaya meliput peristiwa besar yang mengubah wajah Indonesia: tsunami Aceh 2004.

Liputan dari tanah yang porak-poranda itu memperlihatkan sisi lain Najwa: keberanian fisik di lapangan, sekaligus empati mendalam pada korban.

Kata-katanya saat melaporkan tragedi tidak sekadar menyalurkan informasi, melainkan menyalurkan rasa. Publik terhubung dengan kepedihan, sekaligus harapan, melalui narasinya.

Liputan tersebut kemudian membawanya meraih penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai Reporter Terbaik 2005.

Mata Najwa: Ruang Percakapan Bangsa

Tahun 2009, Metro TV meluncurkan program Mata Najwa. Acara ini segera menjelma menjadi fenomena. Bukan hanya karena bintang utamanya adalah Najwa, melainkan karena acara ini membuka ruang publik yang selama ini terasa kaku.