Tokoh-tokoh penting dari presiden, menteri, politisi, pebisnis, hingga aktivis masyarakat duduk di kursi panas berhadapan dengannya.
Najwa membangun gaya wawancara yang khas: tegas, rapi, penuh data, tetapi tidak kehilangan sentuhan emosional.
Ia mampu mengajukan pertanyaan yang membuat narasumber berhenti sejenak, terdiam, lalu akhirnya mengeluarkan jawaban jujur. Adegan-adegan ini sering menjadi bahan pembicaraan nasional.
Bagi banyak orang, Mata Najwa adalah kelas kewarganegaraan yang disiarkan di televisi.
Di situlah, masyarakat belajar bagaimana menakar janji politik, menimbang argumen pejabat, hingga menyaksikan wajah asli kekuasaan ketika berhadapan dengan pertanyaan yang sulit dihindari.
Dari Televisi ke Narasi
Pada 2017, Najwa mengejutkan publik dengan pengumuman bahwa ia meninggalkan Metro TV, setelah 17 tahun berkarya.
Bagi sebagian orang, itu langkah berisiko. Namun, bagi Najwa, saat itu ia perlu menciptakan rumah baru bagi jurnalisme; ruang independen yang tidak terikat kepentingan industri media besar.
Dari situlah lahir Narasi pada 2018. Bukan sekadar kanal YouTube, Narasi berkembang menjadi ekosistem media digital yang merangkul berbagai jenis konten: berita, hiburan, dokumenter, hingga kampanye literasi digital.
Dengan Narasi, Najwa membuktikan bahwa jurnalisme bisa bertahan bahkan di era disrupsi, asalkan tetap berpijak pada integritas.
Narasi bukan proyek personal. Ia membentuk tim yang berisi jurnalis muda, kreator digital, dan aktivis komunitas.