Awalnya, usaha itu hanya bermodal 5–6 kilo kedelai per hari. Namun sedikit demi sedikit, usaha tempenya berkembang.

Dalam sehari ia bisa meraih omzet bersih hingga Rp300 ribu. Rohim bahkan mempekerjakan tiga orang karyawan. “Alhamdulillah, waktu itu maju. Bisa dibilang hidup mulai enak,” kenangnya.

Namun, pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Harga kedelai meroket, daya beli masyarakat anjlok. Dari semula Rp6.000 per kilo, harga kedelai melonjak hingga Rp14.500.

Usaha tempe yang pernah memberi harapan, kini justru menggerus tabungan. “Biasanya bisa 300 ribu per hari, akhirnya tidak sampai seratus ribu. Buat makan saja kurang,” katanya. Beratnya beban itu membuatnya terpaksa menutup usaha pada 2022.

Sejak itu, Rohim bertahan dengan kerja serabutan. Ia berpindah-pindah kota, mencoba peruntungan di Jakarta hingga Jawa Barat.

Namun, tak ada yang benar-benar membuatnya bisa bangkit seperti dulu. Sampai akhirnya ia memutuskan hijrah ke Sumenep, tinggal sementara bersama saudaranya, dan membuka lapak kopi kecil.

Setiap malam, dari pukul 8 hingga tengah malam, ia menunggu pembeli yang datang. Kadang ramai, kadang sepi. “Pernah cuma dapat Rp13 ribu sehari, cuma laku dua gelas kopi. Tapi kalau pas ada keramaian, bisa juga sampai Rp200 ribu,” tuturnya.

Selain kopi malam hari, pagi ia berjualan es teh dan es jeruk di pinggir jalan. Pendapatan dari sana pun naik-turun: kadang Rp90 ribu, kadang hanya Rp50 ribu.

Bagi sebagian orang, angka-angka itu mungkin kecil. Namun bagi Rohim, inilah jalan untuk bertahan hidup, sekaligus cara menjaga harga diri sebagai seorang anak pertama.

Ia tahu ada banyak anak muda seusianya yang memilih menyerah, tetapi ia tidak ingin menghabiskan waktu dengan sia-sia. “Saya punya prinsip, kerja keras itu kewajiban. Saya harus bisa membahagiakan bapak ibu saya,” katanya.