Cita-citanya sederhana: suatu saat pulang ke kampung halaman dengan cukup modal untuk membuka usaha sendiri. Entah itu kembali berdagang tempe, membuka warung ayam potong, atau usaha lain yang bisa menafkahi keluarga.

Bagi Rohim, berdagang bukan sekadar pekerjaan, melainkan bakat yang sudah mendarah daging. “Kalau ada modal cukup, insya Allah saya buka usaha di Jawa Tengah. Itu sudah cita-cita sejak lama,” ujarnya penuh keyakinan.

Kisah Abdul Rohim mengingatkan bahwa jalan wirausaha tidak selalu mulus. Ada masa naik, ada masa jatuh. Ada hari-hari ketika keuntungan terasa melimpah, tapi ada juga malam panjang ketika hasil yang dibawa pulang hanya cukup untuk rokok dan makan. Namun, justru dari ketidakpastian itulah lahir semangat bertahan.

Ia mungkin hanya satu dari ribuan pedagang kecil di kota-kota Indonesia, tetapi ceritanya mewakili suara banyak orang yang terus berjuang di tengah kerasnya hidup.

"Bahwa meski gagal sekali, dua kali, bahkan berkali-kali, selalu ada ruang untuk bangkit kembali. Dan selama ada tekad untuk bekerja, harapan itu tidak akan pernah padam."