estoria.id – Bayangkan cukup memberi perintah lewat bahasa sehari-hari, lalu kecerdasan buatan (AI) membuka aplikasi, membuat desain, menulis kode, mengunggah barang ke marketplace hingga mengedit dokumen hukum.
Gambaran itu ditampilkan dalam video pengenalan GPT-6 Astra yang dirilis Channel YouTube OpenAI pada 4 September 2026. Dalam demonstrasinya, Astra diperkenalkan bukan sekadar sebagai chatbot, melainkan sebagai computer-use agent yang mampu menjalankan berbagai pekerjaan langsung di komputer.
Salah satu demonstrasi yang paling mencuri perhatian adalah ketika Astra diminta membuat sebuah roket.
Perintah dimulai sederhana. AI diminta menggambar sebuah lingkaran kuning kecil. Lingkaran tersebut kemudian diubah menjadi jendela roket, sebelum dikembangkan menjadi desain roket yang lebih detail dan berwarna.
Perintah berikutnya membuat demonstrasi semakin menarik.
Astra diminta mengubah desain tersebut menjadi model tiga dimensi menggunakan Blender. AI kemudian menjalankan aplikasi tersebut dan mengerjakan proses pembuatan model 3D.
Tak berhenti di sana, Astra juga diminta membuat file yang dapat digunakan untuk pencetakan 3D. Hasil akhirnya diperlihatkan dalam bentuk roket yang benar-benar dicetak menggunakan printer 3D.
Kemampuan serupa ditunjukkan dalam sejumlah skenario lain.
Dalam simulasi bisnis, Astra mampu membuat materi presentasi mengenai produk jaket hujan untuk musim berikutnya. AI diminta membuat produk terlihat mewah, tetapi tetap menggunakan warna cerah dan nuansa menyenangkan.
Pada skenario perdagangan elektronik, Astra bahkan diperlihatkan mampu membantu menjual sebuah meja melalui eBay. AI membuka situs tersebut, mengambil foto dari folder unduhan, kemudian menyusun informasi produk, termasuk keterangan bahwa meja mengalami sedikit kerusakan berupa penyok.
Kemampuan coding juga menjadi bagian penting dari demonstrasi.
Ketika diminta membuat sebuah game tentang pemain yang menghindari asteroid menggunakan tombol panah, Astra langsung mengerjakan kode untuk membangun permainan tersebut.
Yang membuat konsep ini berbeda dari chatbot konvensional adalah kemampuannya menjalankan rangkaian pekerjaan, bukan sekadar memberikan instruksi kepada pengguna.
Dalam demonstrasi lain, Astra diminta memesan makanan yang pernah dipesan sebelumnya. AI digambarkan mampu melihat riwayat pesanan dan melanjutkan proses pemesanan.
Ketika ditanya mengenai reservasi, Astra juga diperlihatkan mampu mencari informasi pemesanan dan menemukan jadwal lapangan pada pukul 17.00.
Kemampuan tersebut bahkan diperluas ke pekerjaan legal.
Astra diminta membuat rancangan template perjanjian lisensi untuk sebuah firma hukum. Setelah itu, pengguna memberikan instruksi lanjutan untuk menghapus ketentuan pembatasan tanggung jawab dan membuat dokumen tersebut lebih menguntungkan bagi pemegang lisensi.
AI kemudian melakukan perubahan langsung pada dokumen.
Demonstrasi tersebut memperlihatkan arah baru pengembangan AI: bukan lagi sekadar sistem yang menunggu pertanyaan dan memberikan jawaban, tetapi agen digital yang dapat menjalankan pekerjaan di berbagai aplikasi.
OpenAI menyebut GPT-6 Astra sebagai model yang dirancang untuk menangani tugas komputer jangka panjang. Dalam video tersebut, kemampuan Astra mencakup penggunaan browser, aplikasi desain, perangkat lunak presentasi, platform perdagangan elektronik hingga lingkungan pemrograman.
Selain kemampuan menggunakan komputer, OpenAI juga memposisikan Astra sebagai model unggulan untuk software engineering serta menekankan peningkatan aspek alignment, termasuk kejujuran dan pengurangan perilaku yang dianggap menipu atau deceptive.
GPT-6 Astra disebut telah tersedia untuk pengguna Enterprise dan Trusted Access Program. Sementara akses untuk ChatGPT Work, Plus, Pro, Business dan Enterprise dijadwalkan menyusul dalam beberapa hari, bersama ketersediaan melalui API dan pelanggan AWS.
Meski begitu, ada satu catatan penting.
Video tersebut merupakan demonstrasi teknologi dan belum tentu seluruh kemampuan yang ditampilkan akan hadir dengan bentuk atau batasan yang sama pada versi final yang digunakan publik.
Namun jika kemampuan tersebut benar-benar bekerja seperti yang diperlihatkan, perubahan yang ditawarkan cukup besar.
AI tidak lagi hanya menjadi tempat bertanya.
AI mulai diposisikan sebagai pekerja digital yang bisa melihat layar, membuka aplikasi, mengambil keputusan berdasarkan konteks, menjalankan tugas dan menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas.