Senyum Wahed di Balik Takjil PWRI Sumenep

Kamis, 12 Maret 2026 - 23:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TUKAR. Wahed (46), seorang abang becak, menukarkan kupon takjil dari PWRI Sumenep kepada pedagang di kawasan Tajamara, Sumenep, untuk mendapatkan menu berbuka puasa saat Ramadan. (redaksi/estoria)

i

TUKAR. Wahed (46), seorang abang becak, menukarkan kupon takjil dari PWRI Sumenep kepada pedagang di kawasan Tajamara, Sumenep, untuk mendapatkan menu berbuka puasa saat Ramadan. (redaksi/estoria)

ESTORIA – Sore mulai merayap pelan di kawasan Taman Tajamara, Kabupaten Sumenep. Langit perlahan berubah warna, sementara aktivitas warga yang mencari menu berbuka puasa semakin ramai.

Deretan pedagang takjil berjejer rapi, menawarkan berbagai makanan dan minuman yang menggoda selera.

Di tengah keramaian itu, seorang pria berusia 42 tahun tampak berdiri di depan salah satu lapak penjual takjil. Namanya Wahed.

Dengan tangan yang sedikit kasar karena pekerjaan sehari-harinya, pria yang berprofesi sebagai abang becak itu memegang selembar kupon kecil.

Kupon itulah yang ia dapatkan dari kegiatan berbagi takjil yang digelar oleh DPC Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Perlahan, Wahed menyerahkan kupon tersebut kepada pedagang. Sang penjual kemudian menukarnya dengan beberapa makanan berbuka puasa.

Tak lama kemudian, sebuah kotak berisi takjil sudah berada di tangan Wahed.

Ia memandang bungkusan kecil itu sejenak, lalu tersenyum. Senyum sederhana, namun penuh rasa syukur.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebungkus makanan berbuka. Tetapi bagi Wahed, perhatian kecil itu terasa sangat berarti.

“Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih kepada PWRI Sumenep,” kata Wahed dengan suara lirih namun tulus, Kamis (12/3) sore.

Wahed sehari-hari mangkal sebagai abang becak di sekitar kawasan kota Sumenep. Penghasilannya tidak selalu menentu. Terkadang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun tak jarang pula ia harus pulang dengan pendapatan yang pas-pasan.

Karena itulah, ketika mendapatkan kupon takjil gratis di sore Ramadan itu, ia merasa sangat bersyukur.

Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya membantu masyarakat kecil, tetapi juga memberikan kebahagiaan sederhana bagi orang-orang seperti dirinya.

PROFIL. Wahed, Abang Becak yang menikmati syukur karena kupon takjil dari DPC PWRI Sumenep. (redaksi/estoria)
PROFIL. Wahed, Abang Becak yang menikmati syukur karena kupon takjil dari DPC PWRI Sumenep. (redaksi/estoria)

“Semoga tahun depan bisa terselenggara kembali. Terima kasih PWRI Sumenep,” ucapnya.

Sore itu, Wahed bukan satu-satunya yang merasakan kebahagiaan tersebut.

Ratusan warga tampak memadati kawasan Tajamara untuk mendapatkan kupon takjil gratis yang dibagikan oleh DPC PWRI Sumenep. Anak-anak, remaja, hingga orang tua terlihat antre dengan tertib sambil menunggu giliran menerima kupon.

Setelah mendapatkan kupon, mereka bebas menukarkannya dengan berbagai jenis makanan dan minuman berbuka puasa yang dijual oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar area Tajamara.

Konsep pembagian menggunakan kupon itu memang sengaja dipilih agar para pedagang kecil juga merasakan manfaat dari kegiatan tersebut.

Dengan begitu, warga bisa menikmati takjil gratis, sementara para pedagang tetap mendapatkan pembeli dari kupon yang ditukarkan.

Di setiap sudut Tajamara sore itu, tampak wajah-wajah penuh antusias. Ada yang langsung menukarkan kuponnya dengan es buah, gorengan hangat, atau aneka kue tradisional yang tersaji di etalase pedagang.

Suasana Ramadan terasa semakin hidup. Bagi Wahed, momen itu bukan sekadar mendapatkan makanan berbuka puasa. Lebih dari itu, ia merasakan adanya perhatian dan kepedulian dari orang-orang di sekitarnya.

Ia sempat berdiri sejenak di pinggir area Tajamara sambil memperhatikan keramaian warga lainnya. Di tangannya, bungkusan takjil itu digenggam dengan hati-hati.

Seolah menjadi sesuatu yang sangat berharga.

“Semoga yang berbagi rezekinya semakin diberi berkah,” katanya pelan.

Di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah, kisah kecil Wahed di sore Ramadan itu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar.

Kadang, hanya dengan selembar kupon takjil dan sebungkus makanan berbuka, seseorang sudah bisa merasa sangat dihargai.

Dan bagi Wahed, Ramadan di Tajamara sore itu meninggalkan satu hal yang sederhana namun mendalam, rasa syukur. (*)

Follow WhatsApp Channel estoria.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anggaran Dipangkas, Dapur MBG Blitar Disegel
Dari Mana Lahirnya Airmata?
Manusia Manunggal
Bullshit Job
Setelah Penipuan Covid-19, Masker dan Jaga Jarak Terbongkar
SPPG MBG Jadi ASN, Bikin Gemes
Main Belakang
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 22 Maret 2026 - 20:23 WIB

Anggaran Dipangkas, Dapur MBG Blitar Disegel

Kamis, 12 Maret 2026 - 23:13 WIB

Senyum Wahed di Balik Takjil PWRI Sumenep

Kamis, 12 Februari 2026 - 22:08 WIB

Dari Mana Lahirnya Airmata?

Kamis, 5 Februari 2026 - 07:13 WIB

Manusia Manunggal

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:33 WIB

Bullshit Job

Berita Terbaru

News

Konsolidasi Jurnalistik PWI Pamekasan

Senin, 20 Apr 2026 - 09:58 WIB

×