Didikan keras sang ayah menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pembentukan karakter Hamka. Haji Rasul memiliki harapan besar agar putranya kelak mengikuti jejaknya sebagai ulama.

 

Namun, film ini tidak menggambarkan Hamka sebagai sosok yang sejak lahir sudah memiliki pengetahuan agama mendalam. Sebaliknya, ia diperlihatkan sebagai anak muda yang harus melewati berbagai proses, termasuk masa pencarian jati diri.

 

"Buya Hamka tidak lahir langsung sebagai orang yang menjadi ulama, yang langsung pandai agama. Semuanya benar-benar dididik mulai dari kecil oleh ayah dan ibunya," kata Vino.

 

Gambaran tersebut juga diperkuat melalui aktivitas Hamka muda yang tidak hanya berkutat dengan kitab dan Al-Qur'an. Ia memiliki ketertarikan terhadap bela diri, belajar silat, serta bersentuhan dengan kehidupan sosial di sekitarnya.

 

Vino menjelaskan, karakter Malik dalam film tersebut ditampilkan sebagai anak muda yang dinamis, memiliki rasa ingin tahu, dan menjalani kehidupan sebagaimana remaja pada zamannya.