estoria.id - Hampir dua pekan setelah Moh. Firman Ramadhani alias Dani (22) meninggal dunia di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Madura, Jawa Timur, polemik penanganan medis pasien tersebut belum juga menemukan titik terang. Keluarga membantah adanya jalur damai dengan pihak rumah sakit dan menuding manajemen RS BHC terkesan lepas tanggung jawab atas tragedi yang menimpa mereka.

 

Di tengah munculnya dugaan perdamaian, keluarga justru mengaku masih menunggu penjelasan medis mengenai penyebab kematian Dani. Mereka mempertanyakan sejumlah kejadian sebelum pasien meninggal, mulai dari kondisi yang disebut membaik hingga dugaan muntah setelah mendapatkan suntikan pada pagi hari menjelang kematiannya.

 

Sepupu almarhum berinisial Y menegaskan, ayah Dani tidak pernah memberikan mandat kepada siapa pun untuk berkomunikasi dengan RS BHC Sumenep guna menyepakati perdamaian.

 

“Kalau Bapak Mahmudi mengambil inisiatif untuk menjadi penengah, mungkin iya. Paman saya sampai sekarang tidak mengutus siapa pun untuk komunikasi ke sana. Kalaupun ada yang kami utus bertemu pihak RS BHC, itu semata-mata untuk mendapat penjelasan secara medis terkait kematian Dani,” ungkap Y, dikutip dari Media Jatim, Senin (26/10/2026).

 

Menurut Y, hingga kini pihak rumah sakit belum pernah secara langsung mengajukan upaya perdamaian kepada keluarga. Ia juga menyebut keluarga belum memperoleh penjelasan medis yang mereka nantikan.