ESTORIA - Musim kemarau 2026 baru saja dimulai, namun alarm ancaman kekeringan di Jawa Timur sudah lebih dulu berbunyi. Sejumlah daerah mulai bergerak cepat menerbitkan status siaga setelah tanda-tanda krisis air bersih muncul di berbagai kawasan akibat cuaca panas ekstrem yang terus meningkat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat sedikitnya enam daerah kini resmi berada dalam status siaga kekeringan. Wilayah tersebut meliputi Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, dan Blitar.
Meski belum sampai pada tahap darurat, pemerintah daerah mulai memperketat kewaspadaan. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan kondisi di enam wilayah tersebut masih dinilai terkendali karena belum ada permintaan bantuan distribusi air bersih dari pemerintah provinsi.
“Statusnya masih siaga dan masih bisa ditangani masing-masing daerah,” ujar Gatot saat dikonfirmasi.
Namun di balik situasi yang masih terkendali itu, BPBD Jawa Timur menyimpan kekhawatiran besar. Tahun ini diprediksi menjadi salah satu musim kemarau paling berat dalam beberapa tahun terakhir. Durasi kemarau disebut lebih panjang dengan suhu yang diperkirakan jauh lebih panas dibanding tahun sebelumnya.
Dampaknya pun diprediksi tidak main-main. Berdasarkan hasil pemetaan kebencanaan, sebanyak 916 desa di 29 kabupaten/kota di Jawa Timur berpotensi terdampak kekeringan sepanjang musim kemarau 2026.
Ancaman terbesar diperkirakan terjadi di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi langganan krisis air bersih setiap tahun. Selain enam daerah yang telah menetapkan status siaga, kawasan seperti Bojonegoro, Pacitan, Trenggalek, Pasuruan, Jombang, hingga hampir seluruh wilayah Pulau Madura disebut masuk dalam daftar rawan kekeringan.
Kondisi ini membuat pemerintah daerah mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi, mulai dari pemetaan sumber air, kesiapan distribusi air bersih, hingga koordinasi lintas instansi untuk menghadapi kemungkinan memburuknya dampak kemarau.
Jika cuaca ekstrem terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, bukan tidak mungkin sebagian wilayah Jawa Timur akan menghadapi krisis air bersih lebih awal dari perkiraan.