estoria.id - Dua penduduk dengan usia paling lanjut di Indonesia ternyata berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Fakta ini diungkap Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri saat merilis Data Kependudukan Bersih Semester I Tahun 2026.
Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri, Teguh Setyabudi, menyebut penduduk tertua di Indonesia saat ini tercatat berusia 118 tahun dan berdomisili di Kabupaten Bangkalan. Sementara posisi kedua ditempati warga Kabupaten Pamekasan dengan usia 117 tahun.
Temuan tersebut disampaikan Teguh dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dukcapil 2026. Bahkan, ia berseloroh bahwa pencapaian usia kedua warga Madura itu layak dicatat sebagai rekor nasional.
"Ini perlu masuk MURI. Penduduk tertua kita tercatat ada di Bangkalan dengan usia 118 tahun, sedangkan yang kedua juga berasal dari Madura," ujar Teguh.
Dengan nada bercanda, ia bahkan mengusulkan agar jajaran Dukcapil datang langsung menemui kedua lansia tersebut untuk mengetahui rahasia umur panjang mereka.
"Kita wawancarai langsung, kira-kira apa jamunya," ucapnya disambut tawa peserta Rakornas.
Selain mengungkap data penduduk tertua, Dukcapil juga memaparkan komposisi terbaru penduduk Indonesia. Hingga Semester I Tahun 2026, jumlah penduduk Indonesia mencapai 290.125.073 jiwa.
Dari angka tersebut, sekitar 201.060.449 jiwa atau 69,30 persen merupakan penduduk usia produktif, yakni kelompok berusia 15 hingga 64 tahun. Kondisi ini dinilai menjadi modal besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan bonus demografi.
Kelompok usia produktif terbesar berasal dari rentang usia 15-19 tahun dengan jumlah 23.791.077 jiwa, disusul usia 20-24 tahun sebanyak 23.442.785 jiwa, serta usia 25-29 tahun yang mencapai 23.004.157 jiwa.
Menurut Teguh, besarnya jumlah penduduk usia produktif menunjukkan rasio ketergantungan yang relatif rendah sehingga membuka peluang mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menekankan pentingnya pendidikan, pelatihan kerja, serta layanan kesehatan yang memadai agar potensi tersebut benar-benar mampu mendorong terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
"Bonus demografi akan membawa berkah apabila kita mampu mengimbanginya dengan pendidikan, pelatihan kerja, dan pelayanan kesehatan yang memadai. Ini merupakan keberkahan yang harus kita kelola dengan baik," kata Teguh.