estoria.id — Perjalanan Aris Sanda di jalur Trans Papua Wamena-Nduga berakhir tragis. Sopir asal Toraja itu dilaporkan tewas ditembak kelompok bersenjata yang dikaitkan dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) atau OPM pimpinan Egianus Kogoya, Selasa (15/9/2026).

 

Sebelum tewas, Aris disebut sempat disandera dan dipaksa membuat pernyataan yang mendukung gerakan Papua Merdeka. Pernyataan tersebut kemudian beredar di media sosial dan menjadi salah satu rekaman yang memperlihatkan situasi intimidatif yang dialaminya.

 

Dalam video itu, Aris terlihat memegang bendera Bintang Kejora. Di dekatnya tampak seorang pria menodongkan senjata api. Aris terlihat ketakutan dan membaca pernyataan dengan terbata-bata.

 

Ia menyampaikan sejumlah pernyataan mengenai Papua, termasuk dukungan terhadap kemerdekaan Papua.

 

“Karena Papua ini bagian dari negara yang sudah besar. Jadi jangan bilang Papua tidak bisa merdeka. Bisa! Saya memang juga mendukung.”