estoria.id - Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengingatkan para petani agar tidak terburu-buru melakukan penanaman tembakau di tengah perubahan cuaca yang mulai terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Sumenep. Imbauan itu terutama ditujukan kepada petani yang hingga kini belum memulai masa tanam.
Menurut Fauzi, kondisi cuaca harus menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan untuk menanam. Pasalnya, musim tanam tembakau saat ini dinilai sudah berada di penghujung waktu ideal, sementara hujan mulai turun di beberapa daerah.
Peringatan tersebut disampaikan usai menghadiri rapat paripurna DPRD Sumenep dengan agenda mendengarkan pidato kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto di Gedung DPRD Sumenep, Jumat (14/08/2026).
Fauzi menilai petani perlu lebih cermat membaca kondisi alam dibanding sekadar mengejar jadwal musim tanam. Sebab, keputusan menanam saat cuaca tidak menentu berpotensi menimbulkan kerugian ketika tanaman terdampak hujan.
Ia bahkan menyarankan petani yang belum melakukan penanaman agar mempertimbangkan kembali rencana tersebut. Menurutnya, risiko yang dihadapi saat ini cukup besar karena curah hujan mulai muncul di sejumlah wilayah.
Bupati mengungkapkan, kondisi cuaca di Sumenep tidak merata. Kawasan bagian barat dilaporkan sudah mulai diguyur hujan, sedangkan sebagian wilayah timur masih relatif kering. Perbedaan tersebut menjadi sinyal bahwa musim kemarau mulai bergerak menuju masa transisi.
Karena itu, petani diminta tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan kebiasaan musim tanam tahun-tahun sebelumnya. Mereka harus memperhatikan perkembangan cuaca terkini di wilayah masing-masing sebelum mengeluarkan biaya produksi.
Fauzi mengakui sebagian petani kemungkinan sudah menyiapkan modal untuk kebutuhan tanam. Pemerintah tidak melarang apabila mereka tetap melanjutkan penanaman, namun seluruh risiko harus diperhitungkan secara matang.
Menurutnya, kerugian dapat terjadi apabila tanaman yang baru ditanam kemudian terkena hujan dengan intensitas yang tidak sesuai kebutuhan tanaman tembakau. Kondisi tersebut berpotensi membuat modal yang telah dikeluarkan tidak kembali.
"Yang terpenting adalah bagaimana petani bisa membaca situasi cuaca dengan baik. Jangan sampai modal yang sudah disiapkan justru hilang karena salah memperhitungkan kondisi alam," ujarnya.
Pemkab Sumenep juga mengingatkan bahwa karakteristik geografis daerah yang terdiri dari kawasan daratan dan kepulauan membuat pola cuaca tidak selalu sama. Oleh sebab itu, setiap petani perlu menyesuaikan keputusan tanam dengan kondisi aktual di wilayahnya masing-masing.