“Belum lagi dampak ketika anak-anak diliburkan mereka yang harusnya mereka di rumah mereka ke kafe-kafe buat keributan, buat masalah. Iya. Nanti kita yang pusing, Bu. Habis itu nanti ada ini orang tuanya apa segala macam. Nah, ini pusing lagi kita, Bu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika kabut asap akibat karhutla menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Dalam kondisi seperti ini, sekolah memang menghadapi dilema antara menjaga keberlangsungan proses belajar dengan memastikan kesehatan dan keselamatan siswa.
Penyesuaian jam masuk dan pengurangan durasi pembelajaran menjadi salah satu opsi yang disampaikan dalam rapat tersebut.
Meski demikian, bagian pernyataan yang menghubungkan aktivitas sekolah dengan keberlangsungan dapur MBG kemudian memicu reaksi warganet. Sebagian pengguna media sosial menilai kesehatan siswa semestinya menjadi pertimbangan utama ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
Komentar bernada kritik pun bermunculan di unggahan video tersebut.