“Udah gitu yang disuruh jadi anjing, ngendus-ngendus ompreng beracun apa enggak, masa guru sih yang disuruh jadi tumbal makan bareng siswa, keracunan bareng-bareng guru lagi,” katanya.
Ia juga mengklaim pelaksanaan MBG berdampak terhadap aktivitas mengajar guru. Menurutnya, terdapat guru yang harus menghadapi perubahan jam mengajar maupun berkurangnya jam pelajaran karena adanya kegiatan terkait program tersebut.
“Yang diacak-acak jam ngajarnya, diambil jam pelajarannya guru juga,” ucapnya.
Tak hanya persoalan jam mengajar, perempuan itu juga menyampaikan tudingan mengenai tekanan yang disebut dialami guru ketika terjadi persoalan dalam pelaksanaan MBG.
“Yang diteror, diintimidasi kalau ada kasus keracunan jangan sebarin guru lagi,” ujarnya.