Menurut dia, persoalan sebenarnya akan menjadi sederhana apabila mekanisme pemilihan dibuka sejak awal.

 

“Kalau memang karena kemampuan akting, fisik, penguasaan karakter, atau pertimbangan artistik tertentu, tinggal dijelaskan kriterianya. Dengan begitu tidak ada prasangka macam-macam,” katanya.

 

Namun sindirannya kemudian diarahkan pada persoalan transparansi.

 

“Jangan sampai nanti orang berpikir Sumenep sedang krisis kacong-cebbing. Padahal yang mungkin sedang krisis bukan pemainnya, tetapi informasi tentang bagaimana pemain itu dipilih,” ujarnya.

 

Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi ASN yang ditemui media ini dan bukan keterangan resmi Pemerintah Kabupaten Sumenep.