Dalam bahasa Indonesia, ia mempertanyakan bagaimana para pekerja dapat melanjutkan hidup ketika tidak bisa bekerja dan tidak memperoleh penghasilan, termasuk untuk mengirim uang kepada anak dan istri mereka di Indonesia.
Selain mengungkap dampak kabut asap, Kalam menyindir pernyataan yang menjadikan hutan Indonesia sebagai pemasok oksigen bagi Malaysia.
Ia menegaskan bahwa penderitaan masyarakat akibat asap tidak semestinya dijadikan bahan candaan.
"Mula, aja malah iki digawe guyonan, digawe lucu-lucuan, ngomong nek Indonesia wis ngirim oksigen neng Malaysia," ucapnya.
Pernyataan itu bermakna bahwa persoalan kabut asap jangan dijadikan lelucon dengan dalih Indonesia telah mengirimkan oksigen ke Malaysia.