[caption id="attachment_1478" align="alignleft" width="219"]KETERANGAN BUKU
Judul Buku: Jendela Salikin
Penulis: Dr. KH. Abuya Busyro Karim, M.Si.
Penerbit: Muara Progresif
Tema: Tasawuf dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs)
Isi Tambahan: Dilengkapi doa-doa Ibnu Athaillah As-Sakandari
Jumlah Halaman: 210 hlm
Bahasa: Indonesia
Jenis Buku: Keislaman / Tasawuf[/caption]
Baik. Buku Jendela Salikin karya Dr. KH. Abuya Busyro Karim, M.Si. ini adalah jawaban tepat untuk membuka ruang kemungkinan selebar-lebarnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar tasawuf. Buku ini membahas secara detail dan lengkap bagaimana kajian maupun praktik tasawuf yang sangat dasar sekali tahap demi tahap. Sebut saja dalam judul Ijtiba’, Ibtila’, Khumul, I’timad, Ihthiyath (berhati-hati; ngastete; baca Madura), dan Al-Buka’u (tangisan). Zuhud misalnya, dalam buku ini bukan berarti antipati terhadap dunia, harta, atau jabatan, melainkan memiliki arti yang sangat spesifik. Zuhud itu bukan tidak punya harta, tapi harta itu ia kendalikan hanya untuk kepentingan umum, tidak untuk diri dan keluarga semata. Zuhud itu kosongnya hati dari harta, tapi yang ada di hati seseorang hanya Allah semata. Kata Ibnu Qayyim, “Jika harta itu di tanganmu, tidak di hatimu, pasti tidak akan membahayakan sekalipun banyak. Tapi jika harta di hatimu, pasti berbahaya sekalipun di tanganmu sedikit” (Ibnu Qayyim, Madarijussalikin, Juz 19, hlm. 469, dalam Jendela Salikin, Dr. KH. Abuya Busyro Karim, M.Si., hlm. 6). Buku dengan tebal 210 halaman ini juga membahas tentang beberapa teori tasawuf yang masyhur berkaitan dengan pendidikan karakter seorang salik, yaitu trilogi penyucian jiwa: Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Pertama, Takhalli. Bermakna pengosongan hati dari akhlak tercela yang bisa mengotori, berupa penyakit hati dan gangguan pikiran yang masih negatif. Kedua, Tahalli. Berarti pengisian. Setelah kosong, baru dilakukan pengisian dan menghiasi hati dengan sifat-sifat mahmudah, akhlaqul karimah, dan dengan dzikir kepada Allah. Ketiga, Tajalli (pancaran). Setelah hati kosong dari sifat tercela dan terisi dengan sifat baik, maka akan terkoneksi diri kita dengan Allah SWT. Di sinilah manusia bisa mencapai derajat insan kamil, memancarkan cahaya Ilahi. Selain trilogi di atas, dalam bertasawuf juga ada konsep maqamat wal ahwal (kedudukan dan keadaan). Biasanya terdiri dari beberapa tingkatan, yakni Thaharah, Taubat, Wara’, Zuhud, Sabar, Tawakal, Ridla, dan Yakin. Sekali lagi, dalam buku Jendela Salikin ini juga dibahas dengan sangat ringkas, kalimat yang mudah dipahami, serta menggunakan literasi tinggi/kuat atau referensi yang mu’tabarah. Selain dilengkapi dengan doa-doa Ibnu Athaillah As-Sakandari, buku ini mengajarkan sekaligus menjadi roadmap bagi para salik untuk bahan renungan, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub ilallah), yang insyaallah akan bermuara pada keselamatan dunia dan akhirat. Maka, sesuai nama buku ini, Jendela Salikin. Artinya pintu/jalan khusus keluar bagi salik yang mengalami kebuntuan bertasawuf atau bias cahaya ilmu (cahaya ilahi) yang memancar dari balik pintu jendela para salik.
Selamat membaca!
Peresensi: Abd. Rahem | Alumni PP. Tarate Pandian Sumenep. Santri Nahdlatul Ulama. Wartawan Senior Sumenep. Khadim Kalam Abuya
