estoria.id – Di tengah tenangnya Desa Makam Agung, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, berdiri sebuah kompleks pemakaman kuno yang tak hanya menjadi tempat peristirahatan para bangsawan, tetapi juga menyimpan jejak awal lahirnya kekuasaan di Madura Barat. Situs yang dikenal sebagai Makam Agung Arosbaya ini menjadi salah satu peninggalan sejarah terpenting yang merekam perjalanan para penguasa Bangkalan sejak berabad-abad silam.
Di balik tembok-tembok tua dan deretan gapura yang masih berdiri kokoh, tersimpan kisah tentang para tokoh yang pernah membentuk arah sejarah Madura. Tak heran jika Makam Agung hingga kini menjadi tujuan para peziarah, peneliti, hingga wisatawan yang ingin menelusuri jejak masa lalu Pulau Garam.
Sejarah mencatat, kawasan Makam Agung dulunya merupakan tanah perdikan yang masuk dalam wilayah Desa Plakaran. Pada masa itu, status tanah perdikan memberikan hak istimewa berupa pembebasan dari kewajiban membayar pajak kepada kerajaan. Meski demikian, masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut tetap memiliki kewajiban menjalankan kerja rodi atau bentuk pengabdian kepada raja sesuai aturan yang berlaku.
Kompleks Makam Agung dibangun dengan tata ruang yang sarat makna. Kawasan ini terdiri atas tiga halaman utama yang masing-masing dipisahkan oleh gapura, sebuah konsep arsitektur yang lazim ditemukan pada bangunan-bangunan suci di masa lampau. Penataan tersebut tidak hanya menunjukkan fungsi religius, tetapi juga mencerminkan tingkatan kesakralan dalam tradisi masyarakat Jawa dan Madura.
Di kompleks inilah dimakamkan sejumlah tokoh penting yang memiliki peran besar dalam sejarah Bangkalan, yakni Kyai Pragalbo atau Pangeran Plakaran, Kyai Pratanu yang lebih dikenal sebagai Pangeran Lemah Duwur (1531–1592), serta Raden Koro atau Pangeran Tengah (1592–1621).