estoria.id – Kepergian KH Abdul Basith AS meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Namun di balik kabar duka itu, publik juga kembali diingatkan pada satu kisah yang selama ini hidup di kalangan santri: kedekatan beliau dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Bagi warga Nahdlatul Ulama, nama Gus Dur bukan sekadar Presiden keempat Republik Indonesia. Ia adalah ulama, pemikir, sekaligus tokoh bangsa yang meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan demokrasi, kemanusiaan, dan kebudayaan Indonesia. Setiap kali nama Gus Dur disebut, berbagai kenangan tentang kesederhanaan, kecerdasan, dan humornya seolah hidup kembali.
Salah satu kenangan itu tersimpan di Pondok Pesantren Annuqayah, salah satu pesantren terbesar di Madura yang beberapa kali disambangi Gus Dur semasa hidupnya. Dalam setiap kunjungan tersebut, ada satu sosok yang hampir selalu menjadi tujuan utama Gus Dur, yakni KH Abdul Basith AS.
Persahabatan Dua Ulama yang Dipersatukan Gagasan dan Kemanusiaan
Hubungan keduanya bukan sekadar hubungan antarkiai. Mereka dipertemukan oleh dunia pemikiran, gerakan sosial, dan semangat kemanusiaan yang sama. KH Abdul Basith dikenal sebagai ulama dengan wawasan luas yang aktif menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga internasional. Sementara Gus Dur merupakan figur yang sejak lama dikenal memiliki pandangan inklusif dan melampaui sekat-sekat identitas.
Kedekatan tersebut membuat hubungan mereka terjalin hangat layaknya sahabat lama. Setiap pertemuan tidak hanya diisi dengan diskusi keagamaan dan kebangsaan, tetapi juga canda yang menunjukkan keakraban dua tokoh besar tersebut.
Saat Gus Dur “Dikerjai” Kiai Basith di Makam Pendiri Annuqayah
Salah satu kisah yang paling sering diceritakan keluarga besar Annuqayah terjadi saat Gus Dur pertama kali berkunjung ke Guluk-Guluk. Kala itu, Gus Dur meminta KH Abdul Basith mengantarkannya ke makam pendiri Pondok Pesantren Annuqayah, KH Muhammad Asy-Syarqawi.
Dalam tradisi pesantren, ziarah kepada para pendahulu sering dimaknai sebagai bentuk penghormatan sekaligus "kulo nuwun" sebelum memulai aktivitas di suatu tempat. Permintaan itu pun langsung dipenuhi oleh KH Abdul Basith.
Keduanya berjalan menuju kompleks pemakaman yang berada di bawah rindangnya pohon sawo, tepat di depan Masjid Jami' Annuqayah. Sesampainya di lokasi, KH Abdul Basith menunjuk salah satu makam.
"Yang ini, Gus," ujar beliau.
Tanpa curiga, Gus Dur mendekati makam tersebut. Ia duduk di sisi makam dan bersiap mengirimkan doa. Namun hanya beberapa detik kemudian, Gus Dur berdiri dan menoleh kepada KH Abdul Basith sambil tersenyum lebar.
"Ayolah Kiai, panjenengan itu jangan suka godain saya. Makam ini isinya perempuan," kata Gus Dur.
Mendengar itu, KH Abdul Basith hanya tersenyum. Rupanya, beliau memang sengaja menggoda sahabatnya tersebut dengan menunjukkan makam yang keliru. Setelah itu, ia menunjukkan makam KH Muhammad Asy-Syarqawi yang sebenarnya.
Kepekaan Gus Dur yang Masih Dikenang Para Santri
Kisah sederhana itu hingga kini masih dikenang para santri. Bukan hanya karena menunjukkan kepekaan batin Gus Dur yang kerap menjadi bahan perbincangan banyak orang, tetapi juga menggambarkan keakraban dua tokoh besar yang sama-sama dikenal cerdas dan memiliki selera humor tinggi.
Bagi para santri Annuqayah, cerita tersebut bukan sekadar anekdot. Kisah itu menjadi simbol hubungan erat antara dua ulama yang saling menghormati, saling menginspirasi, dan memiliki kepedulian besar terhadap umat.
Kini, setelah Gus Dur wafat pada 31 Desember 2009 dan KH Abdul Basith menyusul berpulang pada 13 Agustus 2026, kisah tersebut terasa jauh lebih bermakna. Ia bukan lagi sekadar cerita tentang dua sahabat yang saling bercanda, melainkan potret hubungan erat dua ulama yang sama-sama mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan kemajuan umat.
KH Abdul Basith, Kiai Intelektual yang Menjembatani Tradisi dan Modernitas
KH Abdul Basith sendiri bukan sosok biasa dalam sejarah Annuqayah. Lahir di Sumenep pada 4 Juni 1944, beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat sebagai putra KH Abdullah Sajjad. Sejak muda, ia dikenal memiliki kecintaan besar terhadap ilmu pengetahuan dan dunia literasi.
Perjalanan pendidikannya membawanya menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan, mulai dari lingkungan pesantren hingga perguruan tinggi. Namun yang membuatnya berbeda adalah keberaniannya membuka ruang dialog antara tradisi pesantren dan dunia modern tanpa kehilangan jati diri sebagai seorang ulama.
Beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pengembangan masyarakat. Bahkan, bersama sejumlah tokoh nasional, termasuk Gus Dur, KH Abdul Basith terlibat dalam berbagai jejaring kemanusiaan dan organisasi internasional yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat.
Menulis sebagai Jalan Pengabdian dan Warisan Keilmuan
Di tengah kesibukannya, satu hal yang tidak pernah ditinggalkan adalah menulis. Puluhan karya lahir dari tangannya, mulai dari buku keagamaan, tafsir, hingga kumpulan peribahasa yang sarat nilai pendidikan dan kebijaksanaan.
Menulis bagi KH Abdul Basith bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bentuk pengabdian. Ia percaya bahwa ilmu akan tetap hidup selama terus diwariskan melalui tulisan.
"Berkarya bisa memberi manfaat bagi pembaca dan tentu saja dinilai pahala di sisi-Nya. Mengabadikan kebaikan adalah dengan tidak mengingat-ingatnya," demikian pesan yang pernah beliau sampaikan.
Dari Bawah Pohon Sawo Annuqayah, Kenangan Itu Tak Pernah Pergi
Kini, sosok yang pernah menjadi tempat singgah Gus Dur setiap datang ke Annuqayah itu telah berpulang. Namun sebagaimana Gus Dur yang tetap hidup dalam ingatan bangsa melalui gagasan dan keteladanannya, KH Abdul Basith juga meninggalkan warisan yang tak akan lekang oleh waktu.
Kepergian beliau mungkin menutup satu bab perjalanan hidup, tetapi kisah, ilmu, dan jejak pengabdiannya akan terus dikenang oleh para santri, masyarakat, serta siapa pun yang pernah belajar dari ketulusan dan keluasan pikirannya.
Di bawah rindangnya pohon sawo Annuqayah, cerita tentang Gus Dur dan KH Abdul Basith mungkin telah menjadi kenangan. Namun kenangan itulah yang kini menjadi saksi bahwa dua tokoh besar tersebut pernah berjalan bersama, berbagi tawa, berbagi gagasan, dan mengabdikan hidup mereka untuk umat serta bangsa.
Al-Fatihah untuk Gus Dur. Al-Fatihah untuk KH Abdul Basith AS. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah keduanya dan menjadikan warisan ilmu mereka sebagai cahaya yang terus menerangi generasi penerus.