“Kami melihat potensi dan keinginan anak-anak dulu, minatnya seperti apa, bakatnya apa, lalu kami mengarahkannya dengan cara mendaftarkan kursus yang sekiranya bisa mengasah kemampuannya, bakatnya,” ungkapnya.

 

Ia menyadari bahwa dirinya maupun suami tidak mungkin menguasai semua bidang yang menjadi bakat anak-anak mereka.

 

“Karena kami kan belum tentu mampu, di bidang bakat apa, setiap anak-anak kami,” imbuhnya.

 

Bagi keluarga ini, kursus bukanlah sarana untuk memaksa seorang anak menjadi juara. Kursus menjadi tempat untuk membantu anak mengembangkan sesuatu yang memang sudah lebih dulu mereka sukai.

 

Bakat Puisi yang Mengalir dari Sang Kakek