estoria.id - Tepuk tangan ratusan peserta upacara menggema di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Sumenep, Senin (17/08/2026). Di tengah suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, seorang gadis kecil berdiri di atas panggung dengan penuh percaya diri.

 

Namanya Haura Bintany Lathifah, atau akrab disapa Bintan.

 

Usianya baru 11 tahun. Namun, keberaniannya tampil di hadapan pejabat, tokoh masyarakat, guru, dan ratusan peserta upacara menunjukkan bahwa panggung bukan lagi tempat asing baginya.

 

Pagi itu, Bintan membawakan puisi “Ibu Pertiwi”, karya Bupati Sumenep, kemudian melanjutkannya dengan lagu Lukisan Indonesia karya Mhala dan Tantra Numata.

 

Dua penampilan tersebut bukan sekadar hiburan dalam rangkaian upacara. Bagi keluarga Bintan, terutama sang ibu, Arimas Valentina Fitri Pasa, momen itu merupakan buah dari proses panjang yang dimulai sejak Bintan masih kecil.

 

“Dengan munculnya Bintan, yang mungkin ini nama baru di Kabupaten Sumenep, seorang anak kecil bisa tampil di acara besar seperti tadi, itu kami sudah MasyaAllah sekali, bangga sekali,” ujar Arimas saat ditemui wartawan dimadura, Senin (17/08/2026).

 

Di Rumah, Bintan Tetap Anak Sebelas Tahun

 

Di balik penampilannya yang percaya diri, kehidupan Bintan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak-anak seusianya.

 

Ia masih berstatus sebagai siswi kelas 5 SDIT Al-Wathoniyah Sumenep. Bintan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

 

Sehari-hari, ia tetap menjalani rutinitas seperti anak pada umumnya: sekolah, belajar, bermain, mengaji, beristirahat, hingga sesekali menggunakan gadget.

 

Hanya saja, ada satu hal yang membuat kesehariannya sedikit berbeda. Ketika tidak memiliki alat musik di rumah, Bintan justru mencari cara sendiri untuk tetap bermain musik.

 

Gadget yang biasanya digunakan untuk hiburan, di tangan Bintan bisa berubah menjadi alat untuk belajar nada.

 

“Hobinya itu bermain musik lewat gadget, terus kayak piano gitu. Itu idenya sendiri di aplikasi gadgetnya, karena memang di rumah tidak punya alat musik ya, tapi dia tidak kehabisan akal untuk mencoba-coba lewat gadget,” tutur Arimas.

 

Bintan juga senang membuat berbagai kerajinan tangan. Ketika muncul keinginan untuk membuat sesuatu, orang tuanya berusaha menyediakan bahan yang diperlukan.

 

“Kalau dia ingin membuat bunga dari ini gitu, kami fasilitasi, kami belikan apa yang dia butuhkan,” katanya.

 

Bagi Arimas, tidak semua bakat anak harus dimulai dengan fasilitas mahal. Yang terpenting adalah memberikan ruang bagi anak untuk mencoba, bereksperimen, dan menemukan hal yang benar-benar disukainya.

 

Rutinitas yang Tetap Terjaga

 

Meski mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan, pendidikan dan rutinitas sehari-hari tetap menjadi perhatian orang tua Bintan.

 

Hari Bintan dimulai dengan salat Subuh. Setelah bersiap, ia berangkat ke sekolah dan biasanya baru pulang sekitar pukul 13.30 WIB.

 

Setelah pulang sekolah, ada satu kebiasaan yang tetap dijaga, yakni tidur siang.

 

Bagi Arimas dan suaminya, tidur siang bukan sekadar waktu istirahat, tetapi bagian dari disiplin agar anak tidak terlalu kelelahan setelah menjalani aktivitas sekolah.

 

Jika ada kursus, sekitar pukul 15.30 WIB Bintan kembali beraktivitas. Setelah itu, ia melanjutkan kegiatan mengaji menjelang Magrib hingga Isya.

 

Baru setelah semua kegiatan selesai, Bintan belajar untuk mempersiapkan pelajaran keesokan harinya.

Malam harinya pun tidak dibiarkan terlalu larut.

 

“Setelah Isya itu kan pulang, lalu belajar sebentar, apa pelajaran yang besoknya. Sudah, setelah itu, karena sudah salat Isya di tempat ngajinya ya, lantas tidur malam. Itu dibiasakan maksimalnya ini, jam 10 tidur malam,” ujar Arimas.

Baca Juga:Main Belakang

 

Rutinitas tersebut terus berulang dari hari ke hari.

 

Karena jadwal sekolah dan kegiatannya cukup padat, Bintan juga tidak terlalu banyak bermain di luar rumah. Ketika tubuh mulai lelah, ia lebih memilih beristirahat.

 

Waktu bermain biasanya lebih banyak diberikan pada akhir pekan.

 

Namun, Sabtu dan Minggu pun tidak selalu dihabiskan untuk bermain. Orang tua Bintan membiasakan anak-anak mereka berkunjung ke rumah kakek dan nenek.

 

“Jadi kami ajari juga mereka pentingnya silaturahmi,” kata Arimas.

 

Untuk penggunaan gadget, keluarga Bintan juga tidak menerapkan larangan secara berlebihan. Waktu penggunaannya lebih longgar pada akhir pekan, sementara aktivitas yang dilakukan tetap diarahkan pada hal-hal positif.

 

Pola Asuh: Santai, tetapi Tetap Serius

 

Arimas mengaku dirinya dan sang suami bukan tipe orang tua yang ingin mengatur seluruh kehidupan anak.

Mereka memilih pola pengasuhan yang menurutnya santai, tetapi tetap memiliki batas dan arah.

 

“Kami mendidik anak-anak dengan santai tapi serius, dan tidak otoriter. Jadi apa-apa tidak harus sesuai keinginan kami untuk anak-anak,” ujarnya.

 

Menurut Arimas, orang tua tidak selalu mengetahui apa yang terbaik bagi setiap anak. Karena itu, ia memilih terlebih dahulu melihat minat dan kecenderungan anak-anaknya.

 

“Kami melihat potensi dan keinginan anak-anak dulu, minatnya seperti apa, bakatnya apa, lalu kami mengarahkannya dengan cara mendaftarkan kursus yang sekiranya bisa mengasah kemampuannya, bakatnya,” ungkapnya.

 

Ia menyadari bahwa dirinya maupun suami tidak mungkin menguasai semua bidang yang menjadi bakat anak-anak mereka.

 

“Karena kami kan belum tentu mampu, di bidang bakat apa, setiap anak-anak kami,” imbuhnya.

 

Bagi keluarga ini, kursus bukanlah sarana untuk memaksa seorang anak menjadi juara. Kursus menjadi tempat untuk membantu anak mengembangkan sesuatu yang memang sudah lebih dulu mereka sukai.

 

Bakat Puisi yang Mengalir dari Sang Kakek

 

Kemampuan Bintan membaca puisi ternyata memiliki cerita tersendiri.

 

Orang pertama yang melatih Bintan adalah ibunya sendiri.

 

Arimas memiliki kedekatan dengan dunia puisi sejak dulu. Ketertarikannya terhadap seni dan sastra juga tumbuh dari sang ayah, yang merupakan kakek Bintan.

 

Arimas pernah mengikuti berbagai lomba puisi. Pengalaman masa lalu itu kemudian ia gunakan ketika mendampingi putrinya.

 

Dengan demikian, kemampuan membaca puisi yang dimiliki Bintan bukan hanya dipelajari dari buku atau tempat kursus.

 

Ada pengalaman seorang ibu yang diturunkan kepada anaknya.

 

“Yang melatih baca puisi, Alhamdulillah, saya sendiri. Benar-benar dari mau sampai di titik ini,” kata Arimas.

 

Ia mengajarkan bukan hanya bagaimana menghafalkan bait-bait puisi, tetapi juga bagaimana mengatur napas, memainkan intonasi, memahami isi puisi, hingga membangun keberanian ketika berada di depan banyak orang.

 

Sekolah pun ikut memberikan dukungan. Ketika Bintan mengikuti perlombaan, guru membantu memberikan latihan. Setelah itu, latihan kembali dilanjutkan di rumah bersama sang ibu.

 

Lukisan Indonesia” dan Panggung yang Sudah Dikenal

 

Berbeda dengan puisi, persiapan Bintan untuk lagu Lukisan Indonesia diperoleh melalui tempat kursusnya.

Namun, lagu tersebut sebenarnya bukan lagu baru bagi Bintan.

 

Ia sudah pernah membawakan lagu itu dalam sebuah kompetisi di Pamekasan yang diikuti peserta se-Madura.

Hasilnya tidak main-main.

 

Bintan berhasil meraih juara satu.

 

Karena itu, ketika lagu tersebut kembali dinyanyikan dalam rangkaian acara HUT ke-81 RI di halaman Pemkab Sumenep, Bintan sudah memiliki pengalaman dan kedekatan emosional dengan lagu tersebut.

 

“Kebetulan, sebelum menyanyikan di pra-upacara tadi, sebelum diminta, Bintan sudah pernah membawakan lagu ini saat ikut lomba di Pamekasan, se-Madura. Alhamdulillah berhasil meraih juara satu pada saat itu. Sehingga menurut saya, feel-nya emang sudah dapet dari awal,” tutur Arimas.

 

Panggung di halaman Pemkab Sumenep akhirnya menjadi pertemuan antara latihan, pengalaman, dan kesempatan.

 

Bintan berdiri di depan ratusan orang.

 

Puisi dibacakan.

 

Lagu dinyanyikan.

 

Dan tepuk tangan pun mengiringi akhir penampilannya.

 

Piala Demi Piala Mulai Memenuhi Rumah

 

Prestasi Bintan tidak hanya lahir dari satu panggung.

 

Sejumlah penghargaan telah diraihnya dalam berbagai bidang, mulai dari menyanyi solo, lagu nasional, lagu Madura, membaca puisi hingga mendongeng.

 

Dalam kompetisi menyanyi solo se-Madura di Pamekasan, Bintan pernah meraih juara harapan satu. Pada kesempatan berikutnya di kota yang sama, ia berhasil naik podium tertinggi dengan meraih juara satu menyanyi solo se-Madura.

 

Ia juga pernah meraih juara dua lagu nasional di Pendopo Sumenep serta juara tiga lomba menyanyi lagu Madura di SMP Kalianget.

 

Baca Juga:Bullshit Job

Prestasi lain datang dari ajang FLS3N.

 

Dalam dua tahun berturut-turut, Bintan berhasil meraih juara satu lomba menyanyi solo.

 

Bahkan, pada hari penampilannya di halaman Pemkab Sumenep, ia sempat menerima piala dari Dinas Pendidikan Sumenep atas prestasi tersebut.

 

Seakan penghargaan itu menjadi pembuka sebelum ia kembali naik ke atas panggung.

 

Tak Hanya Bernyanyi dan Berpuisi

 

Dunia seni Bintan ternyata tidak berhenti pada musik dan puisi.

 

Ia juga mulai mencoba dunia mendongeng.

 

Pada Ramadan 1447 Hijriah, Bintan mengikuti lomba kisah Nabi di RSI Kalianget. Itu merupakan pengalaman keduanya dalam perlombaan mendongeng.

 

Hasilnya kembali membanggakan.

 

Di RSI Kalianget, Bintan meraih juara dua.

 

Dalam lomba yang digelar Kata Bintang, ia kembali memperoleh juara dua kategori mendongeng.

 

Sementara di bidang puisi, Bintan pernah meraih juara harapan satu di RRI.

 

Dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang digelar Dinas Pendidikan Sumenep pada 2025, ia berhasil meraih juara dua.

 

Ia juga meraih juara dua lomba baca puisi se-Madura di Pamekasan.

 

Bagi Arimas, daftar tersebut bahkan tidak selalu mudah diingat satu per satu.

 

Namun, ada sesuatu yang lebih penting dibanding sekadar jumlah piala.

 

Bukan Tentang Berapa Banyak Piala

 

Arimas tidak ingin menjadikan prestasi sebagai beban bagi putrinya.

 

Baginya, piala hanyalah hasil dari proses.

 

Yang jauh lebih penting adalah Bintan menemukan sesuatu yang membuatnya senang dan kemudian memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

 

Karena itu, ketika mendekati perlombaan, latihan memang dibuat lebih serius.

 

Beberapa hari sebelum pertandingan, Bintan digembleng lebih intensif.

 

Tidak ada tekanan berlebihan.

 

Tidak ada keharusan untuk selalu menang.

 

Yang paling penting, Bintan tidak boleh takut berada di atas panggung.

 

Sebab bagi keluarga ini, panggung bukan tempat untuk menentukan seberapa berharga seorang anak.

 

Panggung adalah tempat bagi seorang anak untuk menunjukkan apa yang sudah dipelajarinya.

 

Harapan Sederhana Seorang Ibu

 

Arimas tidak memiliki cetak biru masa depan yang harus dipenuhi Bintan.

 

Ia tidak memaksa putrinya kelak harus menjadi penyanyi, pembaca puisi, atau pekerja seni.

 

Ia hanya ingin Bintan terus berkembang.

 

Tumbuh dengan bakat yang terus diasah. Tumbuh dengan kepercayaan diri. Dan yang paling penting, tumbuh menjadi anak yang mampu menentukan jalan hidupnya sendiri.

 

Penampilan di hadapan ratusan peserta upacara HUT ke-81 RI sudah menjadi kebanggaan besar bagi keluarganya.

 

Namun, bagi Arimas, panggung tersebut bukanlah garis akhir.

 

Justru bisa menjadi salah satu titik awal perjalanan panjang putrinya.

 

Ia juga berharap kisah Bintan dapat menjadi contoh bagi anak-anak lain bahwa bakat tidak cukup hanya dimiliki.

Bakat harus dilatih.

 

Keberanian harus dibangun.

 

Dan dukungan keluarga sangat dibutuhkan agar seorang anak berani mencoba.

 

“Dari Bintan kecil, semoga nanti sampai menjadi Bintan yang besar di dunia entertain,” kata Arimas.

 

Kalimat itu terdengar sederhana.

 

Tetapi di baliknya ada doa seorang ibu yang tidak sedang menuntut anaknya menjadi sempurna. Ia hanya ingin anaknya memiliki ruang untuk tumbuh dan menemukan dirinya sendiri.

 

Di usia sebelas tahun, mungkin Bintan belum sepenuhnya memahami ke mana jalan itu akan membawanya.

 

Untuk saat ini, dunianya masih dipenuhi sekolah, puisi, lagu, latihan, keluarga, dan piala-piala yang perlahan bertambah.

 

Namun, Senin pagi di halaman Kantor Pemkab Sumenep menjadi salah satu momen penting.

 

Ketika suara Bintan mengalun dan ratusan tangan bertepuk tangan, seorang anak kecil sedang belajar mengenali kekuatan suaranya.

 

Dan di belakang panggung itu, seorang ibu sedang menyaksikan hasil dari satu hal yang selama ini ia lakukan dengan sabar: memberi kesempatan kepada anaknya untuk tumbuh sesuai bakat dan keinginannya sendiri.

 

Bintan masih sebelas tahun.

 

Perjalanannya masih panjang.

 

Tetapi langkah kecil itu sudah dimulai.

 

Dari sebuah puisi, sebuah lagu, dan panggung yang pagi itu membuat namanya mulai dikenal lebih luas di Sumenep.