"Sambil nunggu kami bikin makanan ala kadarnya, sambil nunggu walaupun ngga itung gizi, ngga lengkap, dan banyak kekurangan berkat bantuan teman-teman," ungkapnya.

 

Menurut Riska, makanan yang dibagikan kepada siswa berasal dari bantuan yang dikumpulkan melalui para donatur.

 

Ia menegaskan, aksinya bukan untuk menggantikan program MBG, melainkan menggambarkan kondisi anak-anak di daerah yang belum terjangkau program tersebut.

 

"Aku cuma mau kasih tahu kalau di pelosok tidak bisa dijangkau MBG yang seharusnya jadi hak anak sekolah di nusantara ini," tulisnya.

 

Riska juga berharap pemerintah memperbaiki akses menuju sekolah. Dengan jalan yang lebih layak, mobilitas siswa dan guru akan lebih mudah sekaligus membuka peluang agar program MBG dapat menjangkau sekolah tersebut.