Menurut Riska, para siswa sebenarnya kerap menanyakan kapan mereka akan mendapatkan makanan bergizi seperti siswa di sekolah lain.

 

Pertanyaan tersebut membuatnya tergerak untuk memberikan makanan secara mandiri, meski dengan keterbatasan yang ada.

 

"Aku rela bikin MBG mandiri untuk anak-anakku biar ngga minder dan merasa hak mereka tidak diberikan," tulis Riska dalam unggahannya.

 

Ia mengungkapkan, para siswa bahkan sering bertanya kepadanya mengenai program MBG.

 

"Mereka selalu tanya, 'Ibu kapan torang dapat MBG?' Di desa ini hanya sekolahku yang belum dapat MBG karena akses sulit," lanjutnya.