Di Indonesia, salam tiga jari mulai mendapat perhatian nasional setelah Pemilihan Presiden 2014. Mengutip pemberitaan Espos.id sebagaimana dilansir RRI, simbol tersebut digunakan dalam acara Syukuran Rakyat Salam 3 Jari di Monas, Jakarta, pada 20 Oktober 2014, bertepatan dengan pelantikan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

 

Kala itu, angka tiga merujuk pada sila ketiga Pancasila, yakni Persatuan Indonesia. Pesan yang ingin disampaikan adalah pentingnya merajut kembali persatuan masyarakat setelah kompetisi politik yang tajam selama pemilihan presiden.

 

Kontestasi Pilpres 2014 yang mempertemukan dua pasangan calon membuat angka satu dan dua identik dengan masing-masing pasangan. Salam tiga jari kemudian hadir dengan pesan berbeda: mengajak masyarakat melampaui sekat persaingan dan kembali menempatkan persatuan sebagai kepentingan bersama.

 

Beberapa tahun berselang, simbol yang sama kembali masuk ke panggung politik nasional. Pada Pilpres 2024, pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD menggunakan salam tiga jari sebagai identitas kampanye, sejalan dengan nomor urut tiga yang mereka peroleh.

 

Dalam konteks tersebut, gestur tiga jari menjadi penanda politik elektoral. Penggunaannya berkaitan dengan identitas pasangan calon dan pesan kampanye yang ingin disampaikan kepada pemilih.