estoria.id - Di awal pagi ketika langit masih buta, Pak Rt sudah terbangun dari tidurnya. Tepat jam 03.00 ia melaksanakan shalat tahajud di rumahnya sebagai ritual yang diitiqamahkan dari pesantren dulu. Sebagai ketua Rt di kampungnya, ia juga aktif shalat jama’ah di mushalla dekat rumahnya. Entah dia sebagai jama’ah dan juga sebagai imam shalat di mushalla itu. Di kampungnya, setiap Rt itu pasti berdampingan dengan mushalla, bukan masjid.

 

Pagi masih gelap gulita. Kokok  ayam jantan terdengar di tiap-tiap rumah, seperti melantunkan gema takbir ke seluruh alam.

 

Dia tidak hanya menjadi ketua Rt melainkan juga sebagai bakul sayur. Ya, bakul sayur. Petani-petani di kampungnya menjualnya ke pak RT itu. Karena kalau jual langsung ke pasar terlalu jauh jarak yang harus ditempuh. Hanya pak Rt itulah jalan satu-satunya yang bisa menolong petani-petani di kampung untuk dijual kepadanya dan dijual lagi di pasar Bringharjo. Sebab ia punya mobil pick up yang bisa bermuatan banyak.

 

Setiap pagi setelah shalat subuh berjamaah, pak Rt melanjutkan aktifitasnya sebagai bakul sayur yang mengambil ke petaninya langsung di kampungnya. Srumbung. Semua jenis sayuran ia ambil. Baik dari sayuran Kangkung, Bayam, Tomat, Cabe rawit dan lain sebagainya. Jam 05.00 ia berangkat ke pasar Bringharjo membawanya dengan pick up milik sendiri, hasil dari jualan sayur. Sesampai pasar, ia menunggu pelanggan tetapnya di depan kios yang berderet dengan pasar pinggir jalan yang belum dibuka oleh pemiliknya karena terlalu pagi. Sebelum jam 07.00 dagangannya selalu habis. Ia pulang dengan teramat gembira.

 

Tapi tidak untuk sekarang, perekonomian mati semenjak ada wabah COVID 19 yang menimpa kampungnya. Tidak hanya kampung, bahkan separuh dunia terserang wabah ini. Kurang lebih enam bulan lamanya wabah ini menimpanya. 

 

###

 

“…. Mari bersam-sama kita patuhi, agar keadaan segera normal. Oeh karena itu, semua tergantung dari kita. Mari putus rantai penyebaran virus Covid-19 dengan tidak kemana-mana, hindari acara-acara yang melibatkan orang banyak. Patuhi protocol. Pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak, cuci tangan menggunakan sabun setelah berktifitas…”

 

Pak RT mendengar siaran pemberitahuan itu di radio miliknya, langsung ia cepat-cepat mencari sember suara lain.

 

“Ah, ada-ada saja orang-orang atasan.” Cetusnya setelah mendengar siaran radio miliknya itu.

 

Ketua pemuda di kampungnya menanyakan perihal 17 Agustusan besok. Tetap di adakan sesuai prtokol Covid-19 atau seeprti biasanya.

 

“Kita adakan acara seperti biasanya saja, Le.  Rasah pakek jarak satu meter. Harus cuci tangan dan liane. Rasah pakek protokol-protokol. Wong kampung kita aman-aman wae kok.” Jelasnya setengah ketawa sambil minum obat  asma yang menimpanya akhir-akhir ini . Ketua pemudanya pun manggut-manggut mendengarkan penjelasan pak RT-nya.

 

Sebagai ketua RT di kampungnya, ia tetap menjalankan rutinan wajib yang ada di kampungnya tanpa mematuhi protokol. Bahkan tidak memperdulikan pemerintah sekalipun. Shalat jamaah di masjid-masjid atau mushalla masih tetap seperti sediakala. Tidak ada jarak maupun protokol yang dipakai.

 

“ah, itu permainan orang atasan kok. Kita itu dipermainkan.” Kata ibu-ibu kampung sana, sambil memonyongkan bibirnya dan memainkan gaya tubuhnya ebagaiman ibu-ibu tukang gosip. Seperti bu Tejo lah kalau diistilahkan.

 

“mbok yo, mati iku urusan Tuhan.” Kata satunya lagi.

 

                            ###

 

Setiap pagi buta pak Rt itu bangun pagi dini hari. Tepat jam 03.00 ia melaksanakan shalat tahajud di rumahnya sebagai ritual yang diitiqamahkan dari pesantren dulu. Sebagai ketua Rt di kampungnya, ia juga aktif shalat jama’ah di mushalla dekar rumahnya. Entah dia sebagai jama’ah dan juga sebagai imam shalat di mushalla itu. Di kampungnya, setiap Rt itu pasti berdampingan dengan mushalla, bukan masjid.

 

Pagi masih gelap gulita. Kokok  ayam jantan terdengar di tiap-tiap rumah, seperti melantunkan gema takbir ke seluruh alam.

 

Seperti biasanya, setiap pagi setelah shalat subuh berjamaah pak RT membawa sayuran-sayurannya ke pasar Bringharjo. ia menunggu pelanggan tetapnya di depan kios yang berderet dengan pasar yang belum dibuka oleh pemiliknya karena terlalu pagi. Tapi nahas, selama ada wabah menimpa, sayuran-sayuran yang selalu habis terjual, sekarang masih banyak sisanya.

 

Sudah enam bulan lamanya wabah itu menimpa ke pelosok-pelosok desa, bahkan dunia.

 

Selang beberapa hari setelah merayakan 17 Agustusan, pak RT dikabarkan masuk Ruang ICU. Asma yang dideritanya kambuh lagi. Keluarga dan kerabat-kerabatnya yang mengunjunginya harus mematuhi protokol Covid-19. 

 

Dari penjelasan Dokter, pak RT positif Covid-19. Diprediksi sudah satu bulan yang lalu ia positif.

 

Jam 03.00 dini hari ia terbangun sebentar. Teringat akan rutinan shalat tahajudnya yang belum ia laksanakan dan juga bakul sayurnya yang akan ia bawa ke pasar Bringharjo. Dokter yang ada pada saat itu langsung memeriksanya.

 

Selang beberapa menit, dokter keluar dari ruangan ICU dan mengabarkan nyawa pak RT tidak bisa diselamatkan.

 

###

 

Baca Juga:Bullshit Job

Pak RT dipulangkan dan dimakamkan berjarak 200 meter dari rumahnya. Tidak berdasarkan protokol Covid-19. Masyarakat berkeyakinan itu hanya wabah. Urusan mati usrusan Tuhan. Begitulah msayarakat sana meyakininya.

 

*Penulis ; Faidi AR lahir di Sumenep, Madura. Alumnus UIN Sunan Kalijga Yogyakarta, Fakultas Hukum Tata Negara