Cek Sekarang Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa Ramadan 2026

Rabu, 18 Februari 2026 - 09:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ILUSTRASI. Seorang anak menanti waktu berbuka puasa dengan hidangan sederhana di depan jam dinding. (istimewa/redaksi/estoria)

i

ILUSTRASI. Seorang anak menanti waktu berbuka puasa dengan hidangan sederhana di depan jam dinding. (istimewa/redaksi/estoria)

ESTORIA – Pemerintah melalui Kementerian Agama resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah atau awal puasa 2026 jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan tersebut diumumkan setelah Sidang Isbat yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2).

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan keputusan itu dalam konferensi pers seusai sidang.

“Hasil Sidang Isbat menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada hari Kamis,” ujarnya, Selasa (17/2) malam.

Keputusan pemerintah ini berbeda satu hari dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sebelumnya telah menetapkan awal Ramadan pada Rabu (18/2). Perbedaan tersebut muncul karena metode penentuan yang digunakan masing-masing pihak.

Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendaya, menjelaskan bahwa posisi hilal di wilayah Indonesia saat pengamatan berada pada rentang minus 2 derajat 24 menit 43 detik hingga minus 0 derajat 55 menit 41 detik, dengan elongasi antara 0 derajat 56 menit 23 detik sampai 1 derajat 53 menit 36 detik.

Sementara itu, kriteria MABIMS menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi minimum 6,4 derajat. Karena posisi hilal belum memenuhi batas tersebut, awal Ramadan diputuskan jatuh pada Kamis.

Tarawih Dimulai Rabu Malam

Dengan keputusan ini, umat Islam di Indonesia dapat mulai melaksanakan Salat Tarawih pada Rabu (18/2) malam. Sidang Isbat sendiri dihadiri berbagai unsur, mulai dari perwakilan organisasi keagamaan, ahli astronomi, Komisi VIII DPR RI, hingga perwakilan negara sahabat.

Proses sidang berlangsung sejak pukul 16.30 WIB, diawali pemaparan terbuka mengenai posisi hilal berdasarkan data astronomi.

Setelah Salat Magrib berjamaah, sidang dilanjutkan secara tertutup sebelum akhirnya diumumkan kepada publik melalui konferensi pers yang disiarkan secara daring dan luring melalui kanal resmi Kemenag.

Sidang Isbat merupakan forum resmi pemerintah untuk menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

Tradisi ini telah berlangsung sejak 1950-an sebagai ruang musyawarah berbagai organisasi Islam dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Dalam forum tersebut, pemerintah mengumpulkan laporan hisab (perhitungan astronomi) dan hasil rukyat (observasi hilal) dari berbagai titik pemantauan.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menegaskan sidang ini menjadi bentuk kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan ilmuwan.

“Sidang Isbat adalah forum bersama untuk memverifikasi data hisab dan hasil rukyat sebelum pemerintah menetapkan awal Ramadan. Keputusan yang diambil harus memiliki dasar ilmiah sekaligus sesuai dengan ketentuan syariat,” katanya.

MUI: Hormati Perbedaan

Ketua Umum MUI Anwar Iskandar mengajak masyarakat untuk menghargai perbedaan penentuan awal Ramadan. Menurutnya, keberagaman merupakan keniscayaan di Indonesia.

“Bangsa kita ini adalah bangsa yang terdiri dari latar belakang yang berbagai-bagai. Itu adalah sebuah keniscayaan. Keniscayaan sebagai bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika, termasuk juga umat Islam,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 80 organisasi Islam, sehingga perbedaan praktik ibadah yang bersifat ijtihad sangat mungkin terjadi.

“Nah oleh karena itu, kemungkinan adanya memulai puasa atau mengakhiri puasa berbeda, itu menjadi sebuah keniscayaan yang bisa kita pahami, yang bisa kita maklumi,” katanya.

Anwar menekankan bahwa yang terpenting adalah menjaga persatuan umat.

“Tetapi yang paling penting itu, keutuhan sebagai umat Islam itu yang harus senantiasa kita jaga. Oleh karena itu, penting untuk saling memahami dan saling menghormati,” imbuhnya.

Menurut dia, masyarakat Indonesia sebagai bangsa demokratis perlu membiasakan diri dengan perbedaan.

Jika dikelola dengan baik, perbedaan justru akan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan memperkuat harmoni sosial.

“Dan persatuan Indonesia itu menjadi bagian penting dari terciptanya stabilitas nasional,” ujarnya. (*)

Cek jadwal imsak dan buka puasa Ramadhan 2026 selengkapnya di sini.

INFOGRAFIS. Jadwal Imsak dan Buka Puasa Ramadan 2026 DKI Jakarta. (istimewa/redaksi/estoria)
INFOGRAFIS. Jadwal Imsak dan Buka Puasa Ramadan 2026 DKI Jakarta. (istimewa/redaksi/estoria)
Follow WhatsApp Channel estoria.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Faktor 1.256 Dapur MBG di Indonesia Timur Dihentikan Sementara
Warga Sumenep Jadi Tersangka Kasus Ledakan di Semarang
Pesan Mengejutkan SBY di Cikeas: “Great Power Tidak Boleh Tanpa Kontrol!”
Demokrat Kaget, Anies Hadiri Halal Bihalal di Rumah SBY-AHY Tanpa Diundang
KPK Beberkan Kondisi Tersangka Yaqut
WFH Sehari Mulai Digulirkan
KPK Didesak Jelaskan Tahanan Yaqut
KPK Geser OTT ke Cilacap, Tetapkan 2 Tersangka Modus Setoran THR
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 00:10 WIB

Faktor 1.256 Dapur MBG di Indonesia Timur Dihentikan Sementara

Rabu, 1 April 2026 - 08:11 WIB

Warga Sumenep Jadi Tersangka Kasus Ledakan di Semarang

Kamis, 26 Maret 2026 - 14:14 WIB

Demokrat Kaget, Anies Hadiri Halal Bihalal di Rumah SBY-AHY Tanpa Diundang

Selasa, 24 Maret 2026 - 16:46 WIB

KPK Beberkan Kondisi Tersangka Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 - 09:50 WIB

WFH Sehari Mulai Digulirkan

Berita Terbaru