Menkeu Purbaya Sebut Utang Indonesia Rp 9.637 Triliun Masih Aman

Minggu, 22 Februari 2026 - 07:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (Istimewa/doc.estoria)

i

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (Istimewa/doc.estoria)

ESTORIA Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan posisi utang Indonesia hingga akhir 2025 masih dalam kategori aman, meski angkanya telah mencapai Rp 9.637,9 triliun.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat diwawancara sejumlah media di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Ia menilai, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 40,46 persen masih terkendali dan relatif lebih rendah dibanding sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

Data per 31 Desember 2025 mencatat total utang pemerintah setara 40,46 persen dari PDB. Angka ini, menurutnya, masih berada dalam batas wajar jika dibandingkan dengan negara lain.

“Singapura berapa? 100%. Malaysia berapa? 60%. Thailand berapa? Kalau dengan standar itu, kita masih aman,” urainya.

Sebagai pembanding, rasio utang Malaysia tercatat sekitar 64 persen terhadap PDB pada 2025. Thailand berada di kisaran 63,5 persen, sementara Singapura jauh lebih tinggi, yakni sekitar 165–170 persen terhadap PDB.

Purbaya juga memastikan pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal dengan menahan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di bawah ambang batas 3 persen dari PDB. Sepanjang 2025, defisit APBN tercatat Rp 695,1 triliun atau setara 2,92 persen PDB.

Menurutnya, pelebaran defisit dilakukan secara terukur sebagai bagian dari strategi mendorong pemulihan ekonomi nasional yang sempat melemah.

“Jadi strategi kita adalah memaksimalkan defisit yang ada untuk memastikan ekonomi berbalik arah,” katanya.

Ia menambahkan, ekspansi fiskal menjadi instrumen penting untuk menjaga momentum pertumbuhan. Tanpa stimulus dan pemanfaatan ruang defisit, pertumbuhan ekonomi dinilai sulit mencapai 5,11 persen pada 2025.

“Kita enggak lewatin 3%, ekspansi fiskal, kasih stimulus ke ekonomi, ekonominya balik,” ujarnya.

Purbaya menegaskan, kebijakan tersebut dirancang agar keseimbangan fiskal tetap terjaga tanpa mengorbankan pertumbuhan.

Pemerintah, kata Menkeu Purbaya, tidak ingin menerapkan langkah yang justru menekan daya beli masyarakat atau memperlambat proses pemulihan. “Dengan strategi itu, ekonomi bisa dibalikkan tanpa melanggar batas fiskal,” katanya.

***

Follow WhatsApp Channel estoria.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Faktor 1.256 Dapur MBG di Indonesia Timur Dihentikan Sementara
Warga Sumenep Jadi Tersangka Kasus Ledakan di Semarang
Pesan Mengejutkan SBY di Cikeas: “Great Power Tidak Boleh Tanpa Kontrol!”
Demokrat Kaget, Anies Hadiri Halal Bihalal di Rumah SBY-AHY Tanpa Diundang
KPK Beberkan Kondisi Tersangka Yaqut
WFH Sehari Mulai Digulirkan
KPK Didesak Jelaskan Tahanan Yaqut
KPK Geser OTT ke Cilacap, Tetapkan 2 Tersangka Modus Setoran THR
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 00:10 WIB

Faktor 1.256 Dapur MBG di Indonesia Timur Dihentikan Sementara

Rabu, 1 April 2026 - 08:11 WIB

Warga Sumenep Jadi Tersangka Kasus Ledakan di Semarang

Kamis, 26 Maret 2026 - 14:14 WIB

Demokrat Kaget, Anies Hadiri Halal Bihalal di Rumah SBY-AHY Tanpa Diundang

Selasa, 24 Maret 2026 - 16:46 WIB

KPK Beberkan Kondisi Tersangka Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 - 09:50 WIB

WFH Sehari Mulai Digulirkan

Berita Terbaru