Forum Diskusi Pentingnya Integritas dan Verifikasi di Era Banjir Informasi
ESTORIA – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pamekasan menggelar konsolidasi jurnalistik di kawasan Monumen Arek Lancor, Minggu malam (19/4/2026).
Kegiatan menjadi ruang diskusi sekaligus refleksi atas tantangan kerja jurnalistik di tengah derasnya arus media sosial.
Agenda diawali doa bersama untuk Sekjen PWI Pusat alm. Zulmansyah Sekedang. Sejumlah organisasi wartawan di Pamekasan turut hadir dalam forum tersebut.
Ketua PWI Pamekasan, Hairul Anam, melalui Ketua Bidang Budaya dan Agama, Hasibuddin, menyampaikan, kegiatan ini bertujuan memperkuat silaturahmi, mengambil hikmah dari peristiwa kematian, serta mengasah insting jurnalistik para wartawan.
“Ini acara perdana Bidang Budaya dan Agama PWI Pamekasan tahun ini. Setidaknya ada tiga tujuan. Silaturahmi, mengambil hikmah dari peristiwa kematian, dan mengasah insting jurnalistik para wartawan di Kabupaten Pamekasan,” tegas Hasib.
Ia menegaskan pentingnya menghadirkan karya jurnalistik yang informatif, edukatif, dan berpihak pada kepentingan publik.
Menurutnya, keterbukaan informasi dari pejabat juga mulai menunjukkan tren positif dalam mendukung kerja jurnalistik.
“Kami cermati, para pejabat dan masyarakat makin sadar betapa sikap tertutup terhadap upaya konfirmasi wartawan itu bagian dari melanggar UU Pers Nomor 40/1999. Sebab, akan menghambat proses percepatan desiminasi informasi publik yang dibutuhkan banyak masyarakat,” urainya.
Dalam sesi tausiah, wartawan Media Indonesia, KH. Ghazi Mujtaba, mengingatkan agar wartawan menghindari berita yang mengandung unsur fitnah dan ghibah.
Ia menegaskan bahwa informasi tanpa dasar fakta termasuk fitnah, sementara konten yang menyerang ranah pribadi tanpa kepentingan publik masuk kategori ghibah.
“Berita yang faktanya tidak valid atau hoaks jelas merupakan fitnah. Sementara berita yang mengandung unsur ghibah lebih kepada yang menjurus pada pribadi seseorang, bukan yang berpijak pada kepentingan publik,” tegasnya.
Kiai Ghazi juga menyoroti kebiasaan begadang di kalangan wartawan yang dinilai berdampak pada kualitas kerja. Kesehatan, menurutnya, berpengaruh langsung terhadap mutu produk jurnalistik.
“Kurangi begadang. Karena kesehatan wartawan sangat berpengaruh terhadap kualitas beritanya,” pesan dia.
Selain itu, ia mengajak wartawan menjadikan kematian sebagai pengingat untuk bekerja lebih bijak.
“Seperti dalam sambutan Ketua PWI barusan, kematian ini adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita. Tidak perlu sakit, juga tidak mengenal umur,” ujarnya.
Ia lanjut menekankan bahwa rezeki merupakan hal yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.
“Kita dapat mengambil hikmah betapa pendapatan dengan rezeki itu berbeda. Kita bisa mengatur pendatapan, tapi tidak dengan rezeki yang merupakan urusan Allah,” paparnya.
“Kita tidak perlu risau dengan urusan rezeki. Sebab, Allah sudah mengaturnya sedemikian rupa,” imbuhnya.
Sementara itu, wartawan senior Berita Jatim, Syamsul Arifin, memaparkan tiga pilar utama jurnalistik, yakni independensi dan keberimbangan, verifikasi, serta integritas.
Ketiga prinsip itu disebut sebagai fondasi yang harus dijaga di tengah perubahan zaman.
“Meskipun teknologi berubah, KEJ terutama yang menekankan pada independensi, uji informasi, tidak menghakimi, tetap harus menjadi fondasi utama,” tukasnya.
***
Penulis : Redaksi Estoria













