Selain dipengaruhi angin dari Australia, minimnya tutupan awan selama musim kemarau juga menjadi faktor utama turunnya suhu udara pada malam hari. Saat langit cerah tanpa banyak awan, panas yang dipancarkan permukaan bumi setelah matahari terbenam langsung terlepas ke atmosfer luar.

 

Kondisi tersebut membuat panas tidak tersimpan di lapisan atmosfer sehingga suhu udara di dekat permukaan bumi menurun lebih cepat. Dampaknya, udara pada malam hingga menjelang pagi terasa jauh lebih dingin dibandingkan biasanya.

 

Herizal menegaskan bahwa fenomena aphelion memang sedang terjadi pada bulan Juli. Meski demikian, posisi Bumi yang berada pada jarak terjauh dari Matahari tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap suhu udara di permukaan.

 

Ia mengatakan, kesalahpahaman masyarakat muncul karena aphelion berlangsung bersamaan dengan puncak musim kemarau di Indonesia. Akibatnya, banyak orang mengira penurunan suhu udara disebabkan oleh fenomena astronomi tersebut.

 

BMKG juga menjelaskan bahwa udara dingin pada musim kemarau merupakan kejadian yang berulang setiap tahun. Bahkan, kondisi ini dapat memicu terbentuknya embun es atau embun upas di kawasan dataran tinggi seperti Dataran Tinggi Dieng maupun wilayah pegunungan lainnya. Fenomena tersebut kerap disalahartikan sebagai turunnya salju.