estoria.id - Rumah Susanah di Kampung Ciuncal RT 01/RW 04, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mendadak menjadi perhatian setelah namanya disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan.
Saat didatangi pada Senin (17/08/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, potongan garis polisi berwarna kuning masih terlihat terikat di bagian atap teras rumah perempuan tersebut.
Garis polisi itu tidak dipasang membentang di depan rumah. Gulungan garis serupa juga terlihat di sebuah bangunan di ujung gang yang biasa digunakan warga untuk berkumpul dan menyerupai pos kamling.
Namun, pemasangan garis tersebut ternyata bukan karena rumah Susanah menjadi lokasi perkara kriminal.
Menurut keterangan warga setempat, garis polisi dipasang untuk membatasi kerumunan setelah rumah Susanah ramai didatangi awak media. Kondisi itu terjadi setelah Presiden Prabowo menyebut namanya dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/08/2026).
Ketika membahas program perlindungan sosial, Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai warga Kabupaten Bogor yang bekerja sebagai buruh harian pengupas bawang.
"Ia bekerja sebagai buruh harian mengupas bawang dengan upah sekitar Rp700.000 per kilogram. Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya," ujar Prabowo dalam pidatonya.
Saat namanya disebut, Susanah tampak hadir mengenakan pakaian adat dan berdiri di balkon Gedung Nusantara sambil mengatupkan kedua tangannya.
Layar LED di dalam gedung juga menampilkan video Susanah yang menceritakan bagaimana penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti membeli beras, minyak, dan sabun.
Pernyataan mengenai upah Rp700.000 per kilogram kemudian menjadi perbincangan luas di masyarakat. Besaran upah tersebut masih menjadi sorotan karena belum terverifikasi secara independen, sementara keterangan warga mengenai pekerjaan Susanah justru berbeda.
Rumah Sederhana di Gang Kampung
Di Kampung Ciuncal, rumah Susanah tampak jauh dari kesan mewah. Bangunan semi-permanen berukuran sekitar 3x3 meter itu berdiri di atas tanah milik ibu kandungnya.
Bagian dalam rumah disekat menggunakan triplek dan terbagi menjadi dua kamar tidur, dapur, serta ruang tamu.
Di bagian luar rumah terdapat mesin jahit, tumpukan kain majun, dan karung berisi kain perca.
Saat rumah tersebut didatangi pada Senin, Susanah bersama suaminya, Didim, belum kembali dari Jakarta. Keduanya diketahui berangkat sejak Rabu (12/08/2026).
Tiga anak mereka sementara tinggal di rumah bersama Yuyum, ibu mertua Susanah.
Yuyum mengatakan, Susanah dan Didim berada di Jakarta untuk menghadiri Sidang Tahunan MPR. Keduanya kemudian turut mendapat undangan menghadiri upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka.
"Ya, dari hari Rabu. Belum pulang nih sampai hari ini. Katanya sih besok pulang," ujar Yuyum.
Menurut Iis Isnawati, istri Ketua RT setempat, keluarga Susanah tercatat dalam desil 1 dan masuk kategori Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Keluarga tersebut disebut menerima sejumlah bantuan sosial, antara lain Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), serta bantuan dari pemerintah desa.
Warga Sebut Pekerjaan Susanah Bukan Pengupas Bawang
Keterangan mengenai pekerjaan Susanah juga menjadi perhatian.
Iis mengaku selama ini tidak mengetahui adanya warga di Kampung Ciuncal, khususnya RT 01, yang bekerja sebagai pengupas bawang.
"Di Kampung Ciuncal ini, terutama di RT 01, tidak ada profesi pengupas bawang ya," kata Iis.
Menurut penuturan Iis, Susanah justru sehari-hari mengerjakan kain majun dari rumah pada pagi hari. Pada siang hingga sore, ia disebut bekerja mencuci ompreng di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sementara itu, Didim disebut bekerja serabutan. Pekerjaannya antara lain menjadi kuli bangunan dan membantu memperbaiki rumah milik warga.
Mesin jahit yang berada di rumah Susanah juga disebut bukan hasil pembelian keluarga. Yuyum mengatakan mesin tersebut merupakan pemberian seorang pengusaha kain majun.
Aktivitas membuat kain majun juga dilakukan sejumlah warga lain di sekitar rumah Susanah.
Iis menjelaskan, sistem pekerjaannya dilakukan dari rumah. Bahan dikirim oleh pengusaha dari luar wilayah ke rumah-rumah warga untuk dikerjakan. Setelah selesai, hasil pekerjaan dikumpulkan kembali dan upah dihitung berdasarkan jumlah pekerjaan yang diselesaikan.
Istana Janji Cek Data Upah Rp700 Ribu per Kilogram
Polemik mengenai keterangan upah Susanah sebelumnya juga mendapat perhatian pemerintah pusat.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah akan mengecek kembali data mengenai upah buruh pengupas bawang sebesar Rp700.000 per kilogram yang disampaikan Prabowo.
"Nanti kita cek ya," ujar Prasetyo di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (15/08/2026).
Garis Polisi Dipasang untuk Redam Kerumunan
Iis menjelaskan, garis polisi di sekitar rumah Susanah dipasang beberapa hari sebelum Senin (17/8/2026), ketika Susanah dan suaminya masih berada di Jakarta.
Pemasangan tersebut, kata dia, dibicarakan oleh Ketua RW, kepala desa, dan kepala dusun setempat.
Keputusan itu diambil setelah rumah Susanah terus didatangi banyak awak media yang ingin mencari informasi mengenai sosok yang tiba-tiba menjadi perhatian publik.
Salah satu pertimbangan utama adalah kondisi psikologis anak-anak Susanah yang masih berada di rumah.
"Takutnya, khawatirnya mungkin jiwa anak-anaknya belum siap dengan kondisi yang tiba-tiba orang tuanya viral," kata Iis.
Karena itu, wartawan yang ingin melakukan peliputan di sekitar rumah Susanah diminta terlebih dahulu berkoordinasi dengan perangkat lingkungan setempat.
Iis juga mengungkapkan, sejumlah pihak pemerintah, termasuk Kementerian Sosial (Kemensos), sempat mendatangi rumah tersebut dan mengambil gambar kondisi keluarga Susanah tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan perangkat lingkungan.
Dengan demikian, keberadaan garis polisi di rumah Susanah bukan disebut sebagai tanda adanya perkara pidana, melainkan bagian dari upaya warga dan perangkat lingkungan mengendalikan keramaian yang muncul setelah keluarga tersebut menjadi sorotan nasional.