Namun, ketegangan kembali memanas setelah militer AS pada Sabtu melancarkan serangan udara ke wilayah Iran untuk hari kedua berturut-turut. Washington menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

 

Di sisi lain, nota kesepahaman juga memuat komitmen Iran untuk menjamin pelayaran aman kapal-kapal komersial di Selat Hormuz selama 60 hari tanpa pungutan biaya, dari Teluk Persia menuju Laut Oman maupun sebaliknya.

Meski demikian, otoritas Iran kini memperketat pengawasan di jalur tersebut. Garda Nasional Iran menyatakan telah mengambil langkah untuk mengendalikan lalu lintas kapal dan memperingatkan bahwa setiap pelanggaran akan ditindak lebih keras dibanding sebelumnya.

 

Beberapa hari sebelumnya, IRGC bahkan telah mengeluarkan peringatan agar tidak ada kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari pihak Iran. Langkah itu diambil setelah Oman mengumumkan rute pelayaran alternatif di kawasan tersebut.

 

Saat ini, Iran hanya mengizinkan kapal melintas melalui koridor pelayaran yang berada di sepanjang garis pantainya, menandai semakin ketatnya kontrol terhadap salah satu jalur maritim paling vital di dunia.