"Provinsi Jawa Timur juga sudah mengeluarkan SK darurat kekeringan," katanya.

 

Berdasarkan prakiraan cuaca, puncak musim kemarau di Jawa Timur diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus. Meski demikian, pada Juni masih terjadi hujan dengan intensitas lokal di sejumlah daerah sehingga belum seluruh wilayah mengalami kondisi kering secara merata.

 

"Untuk Juni sendiri masih terjadi hujan lokal di beberapa titik di Jawa Timur," jelas Gatot.

 

Sebagai langkah penanganan awal, sejumlah pemerintah daerah mulai menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Hingga saat ini, empat kabupaten telah melakukan dropping air bersih menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) masing-masing.

 

Keempat daerah tersebut yakni Kabupaten Bondowoso, Probolinggo, Bojonegoro, dan Kabupaten Pasuruan.

BPBD Jawa Timur mengimbau pemerintah daerah terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, terutama di wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan, guna meminimalkan dampak terhadap kebutuhan air bersih masyarakat.