estoria.id – Makalah ilmiah yang mengusung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kandidat Nobel Perdamaian 2026 mendadak menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Dokumen yang turut mencantumkan nama Presiden RI Prabowo Subianto itu kini berada dalam sorotan setelah muncul dugaan penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses penyusunannya.
Kontroversi bermula ketika warganet menelusuri isi makalah yang beredar luas sejak awal pekan ini. Dokumen setebal 69 halaman berjudul “Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by The National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia's Economic Growth” tersebut diketahui telah diunggah ke platform Social Science Research Network (SSRN) pada 31 Maret 2026.
Namun alih-alih menuai apresiasi, paper yang mengangkat program unggulan pemerintah itu justru memunculkan berbagai tanda tanya. Sejumlah pihak menemukan indikasi kuat bahwa sebagian isi dokumen kemungkinan disusun menggunakan teknologi AI generatif.
Kecurigaan itu muncul sejak bagian awal makalah. Pada beberapa halaman, terdapat visualisasi berwarna yang dinilai memiliki karakteristik khas gambar hasil AI. Selain itu, ditemukan pula tabel yang diduga belum melalui proses penyuntingan secara menyeluruh.
Sorotan terbesar datang dari temuan sebuah kalimat yang menyerupai instruksi atau prompt AI yang masih tertinggal dalam dokumen final. Frasa berbunyi “One-Sentence Nobel Interpretation (optional, very strong)” ditemukan tepat di bawah salah satu tabel, sehingga memicu dugaan bahwa naskah tersebut disusun dengan bantuan sistem kecerdasan buatan dan belum sepenuhnya dibersihkan dari jejak proses pembuatannya.