Proses evakuasi tidak berlangsung mudah. Desa Nitunglea sempat terisolasi setelah gempa memicu longsor yang menutup akses menuju permukiman. Material berupa batu-batu besar dan pepohonan tumbang membuat kendaraan sulit mencapai desa tersebut.

 

Dalam kondisi itu, warga hanya dapat mencapai Desa Nitunglea dengan berjalan kaki sekitar tiga jam dari dermaga.

 

Di tengah situasi darurat tersebut, perhatian terhadap kondisi psikologis para penyintas juga menjadi perhatian aparat. Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko menilai trauma akibat bencana, terutama pada anak-anak, tidak boleh diabaikan.

 

"Para pengungsi ini bukan hanya fisiknya saja yang terluka, tapi ada juga kesehatan mental. Itu yang tidak boleh kita abaikan dan harus kita atensi, terlebih bagi anak-anak," ujar Rudi.

 

Perhatian tersebut diwujudkan melalui kegiatan trauma healing bagi para pengungsi. Pada Rabu (19/08/2026), Rudi bersama Ketua Bhayangkari NTT Vily Darmoko mengunjungi lokasi pengungsian di Lapangan Gelora Samador.