estoria.id – Pemandangan tak biasa terjadi dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Kamis (24/9/2026). Puluhan delegasi negara memilih meninggalkan ruang sidang sesaat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mulai menyampaikan pidatonya.

 

Delegasi Indonesia termasuk yang ikut berdiri dan keluar dari ruang persidangan.

 

Aksi tersebut terekam dalam video yang dirilis Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di New York. Dalam rekaman itu, delegasi Indonesia terlihat meninggalkan tempat duduk secara bersamaan bersama sejumlah delegasi negara lain.

 

Bukan hanya Indonesia. Puluhan perwakilan negara lainnya juga tampak meninggalkan aula ketika Netanyahu mengambil posisi di podium. Sejumlah peserta bahkan terdengar mencemooh dan mengejek, sementara anggota delegasi Israel berdiri memberikan tepuk tangan kepada Netanyahu.

 

Laporan Reuters mengonfirmasi adanya aksi walkout oleh puluhan delegasi ketika Netanyahu memulai pidatonya.

Suasana di dalam ruang sidang kemudian sempat memanas. Ketua sidang meminta para peserta menjaga ketertiban sebelum Netanyahu melanjutkan pidatonya.

 

Alih-alih mengabaikan aksi tersebut, Netanyahu justru menyindir negara-negara yang memilih meninggalkan ruangan.

 

"Jika ada pengecut moral lain yang belum meninggalkan aula ini, silakan pergi sekarang," kata Netanyahu.

Pernyataan itu disampaikan ketika kursi sejumlah delegasi mulai terlihat kosong.

 

Serang Mamdani hingga Kritik Inggris-Prancis

 

Dalam pidatonya, Netanyahu tidak hanya membela kebijakan Israel, tetapi juga melancarkan kritik terhadap sejumlah tokoh dan negara yang selama ini vokal menentang pemerintahannya.

 

Salah satu sasaran kritiknya adalah Wali Kota New York Zohran Mamdani. Netanyahu menyebut Mamdani "anti-Semit" dan mengklaim banyak warga Yahudi tidak lagi merasa aman sejak Mamdani terpilih sebagai wali kota.

 

Mamdani sebelumnya memang pernah menyatakan akan mengeksekusi surat perintah penangkapan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) terhadap Netanyahu jika pemimpin Israel tersebut berada di New York. Namun, ia kemudian mengakui bahwa kewenangan tersebut tidak berada di tangannya.

 

Netanyahu juga menyerang Inggris dan Prancis yang belakangan semakin terbuka mengkritik Israel. Kedua negara tersebut menjadi bagian dari sejumlah pemerintahan Barat yang meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Israel terkait konflik di Gaza.

 

Iran dan Erdogan Ikut Diserang

 

Iran menjadi sasaran kritik keras Netanyahu dalam pidatonya. Ia menyebut pemerintahan Iran sebagai "kediktatoran pembunuh" dan menuduh Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir yang dapat mengancam Israel maupun negara lain.

 

Netanyahu juga melontarkan serangan verbal terhadap Turki. Ia menuduh Ankara mendukung Hamas dan menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai "tiran".

 

Pidato tersebut berlangsung dalam suasana penuh ketegangan. Di luar gedung PBB, demonstrasi yang mengecam kebijakan Israel juga berlangsung ketika Netanyahu menyampaikan pidatonya.

 

Pager Jadi Alat Peraga

 

Netanyahu turut membawa sejumlah alat peraga ketika berpidato. Salah satunya sebuah perangkat pager yang dikaitkan dengan operasi terhadap anggota Hizbullah di Lebanon.

 

Pager tersebut merujuk pada serangkaian ledakan perangkat komunikasi yang sebelumnya menargetkan anggota Hizbullah dan menimbulkan korban, termasuk warga sipil.

 

Dengan membawa alat tersebut ke podium, Netanyahu kembali menampilkan operasi Israel terhadap kelompok bersenjata yang didukung Iran sebagai bagian dari pembelaan terhadap kebijakan keamanan negaranya.

 

Aksi walkout delegasi menjadi salah satu momen paling mencolok dalam pidato Netanyahu di Sidang Majelis Umum PBB tahun ini. Setelah para delegasi meninggalkan ruangan, Netanyahu tetap melanjutkan pidatonya di hadapan mereka yang memilih bertahan di dalam aula.