estoria.id – Kemarau panjang mulai memukul sejumlah wilayah kepulauan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Krisis air bersih membuat warga harus mencari sumber air hingga ke wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Kondisi tersebut salah satunya terjadi di Pulau Sepudi, khususnya Kecamatan Gayam dan Kecamatan Nonggunong. Sejumlah dusun dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.

 

Di Kecamatan Gayam, kekeringan melanda Dusun Bakoan, Desa Galis, Desa Nyamplong, serta Dusun Sumber Jati dan Slat Brata di Desa Prambanan.

 

Kondisi serupa juga dirasakan warga Desa Gendang Timur, terutama di Dusun Koattas, Ombaran, Jati, dan Pao Laseng.

 

Sementara di Kecamatan Nonggunong, persoalan air bersih turut dirasakan masyarakat Pulau Bulu Manuk, Desa Sonok.

 

Menghadapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumenep bergerak menyalurkan bantuan kepada warga.

 

Bantuan tidak hanya berupa distribusi air bersih. Baznas juga menyalurkan sarana penunjang berupa jerigen serta membantu biaya pengangkutan air untuk masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.

 

Ketua Baznas Kabupaten Sumenep, Ahmad Rahman, mengatakan pihaknya telah mengirimkan bantuan jerigen untuk memudahkan warga mengangkut air dari sumber menuju permukiman.

 

“Baznas sudah mengirimkan masing-masing 50 jerigen ke Kecamatan Nonggunong dan Gayam,” kata Ahmad Rahman, Jumat (25/9/2026).

 

Menurut Ahmad, kebutuhan sarana pengangkutan menjadi persoalan tersendiri bagi warga yang tinggal di wilayah kepulauan. Sebab, tidak semua permukiman memiliki akses langsung terhadap sumber air bersih.

 

Karena itu, Baznas juga memberikan dukungan biaya akomodasi pengangkutan air bersih, termasuk bagi warga yang harus menggunakan transportasi laut.

 

Salah satunya masyarakat Pulau Bulu Manuk yang harus menggunakan perahu untuk mengambil pasokan air bersih dari wilayah Kecamatan Gayam.

 

“Baznas juga sudah mengirimkan bantuan biaya akomodasi pengangkutan air bersih bekerja sama dengan camat. Harapannya, bantuan ini bisa mengurangi beban warga yang mengalami krisis air bersih di dua kecamatan tersebut,” jelasnya.

 

Di lapangan, pendistribusian air bersih dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan BPBD, pemerintah kecamatan, Babinsa, relawan hingga masyarakat setempat.

 

Kolaborasi lintas unsur tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan air dapat segera diterima warga yang terdampak kekeringan.

 

Persoalan geografis menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan krisis air bersih di wilayah kepulauan Sumenep. Jarak antarpulau dan keterbatasan akses transportasi membuat distribusi bantuan membutuhkan koordinasi serta dukungan sarana angkut.

 

Baznas Sumenep memastikan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait akan terus dilakukan selama masyarakat masih membutuhkan bantuan akibat kekeringan.

 

Selain distribusi air bersih, penyediaan sarana seperti jerigen dan tandon diharapkan dapat membantu warga menampung sekaligus mengangkut air, sehingga kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat terpenuhi di tengah kemarau panjang.