estoria.id - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi sorotan setelah mengungkap penggunaan dana sekitar Rp200 juta untuk mempromosikan konten di media sosial agar menjangkau lebih banyak pengguna.
Pengakuan itu disampaikan saat menanggapi ramainya pembahasan mengenai biaya promosi konten di media sosial. Ia menegaskan, dana yang digunakan untuk kegiatan tersebut berasal dari uang pribadi, bukan anggaran pemerintah.
"Lagi rame nih di medsos nih. Medsos saya itu saya boosting. Saya boosting itu supaya viral, saya posting di Meta," kata Sudaryono dikutip dari akun tiktok @dardardar_30 pada Sabtu (26/9/2026).
Ia menyebut nominal yang dikeluarkan sekitar Rp200 juta untuk periode tiga bulan, yakni Juli hingga September. Namun, angka tersebut disampaikan dengan catatan bahwa dirinya tidak mengingat secara pasti nominalnya.
"Kalau nggak salah berapa, tujuannya Rp200 juta apa ya selama tiga, dari Juli sampai September," katanya.
Menurut dia, promosi berbayar tersebut dilakukan untuk memperluas penyebaran informasi mengenai kegiatan yang dinilai positif. Ia pun mempertanyakan jika penggunaan uang pribadi untuk tujuan tersebut dianggap sebagai persoalan.
"Saya bilang salahnya apa? Saya boosting pakai uang saya sendiri, bukan pakai anggaran," tegasnya.
Aktivitas tersebut sejalan dengan penggunaan akun media sosialnya yang selama ini kerap menampilkan berbagai kegiatan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejumlah unggahan menampilkan aktivitas di lapangan, termasuk dokumentasi dan foto kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program tersebut.
Melalui media sosial, aktivitas MBG dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan program pemerintah itu menjadi salah satu materi yang dikomunikasikan kepada publik.
Ia mengatakan, penyebaran informasi tersebut penting untuk memberikan gambaran mengenai pekerjaan yang sedang dilakukan di tengah munculnya berbagai informasi negatif di media sosial.
"Dan saya berkepentingan untuk bagaimana mensyiarkan berita-berita yang baik itu di tengah satu cara yang dibikin-bikin oleh orang-orang itu," ujarnya.
Ia kemudian menyinggung informasi yang menurutnya dapat membuat pekerjaan yang baik justru dipersepsikan sebaliknya.
"Itu bapak ibu semua. Orang yang kerja baik dibilang nggak baik. Orang yang kerjanya sudah bagus itu kemudian dia DFK namanya," katanya.
Saat menjelaskan istilah tersebut, ia menyebut kata fake, disinformation, hingga fitnah.
"DFK itu apa sih? F-nya itu fake apa sih? Disinformation, fake, sama K-nya apalah gitu. Fitnah ya," ujarnya.
Menurut dia, persoalan penyebaran informasi di media sosial menjadi penting karena dapat memengaruhi persepsi publik terhadap suatu pekerjaan atau kebijakan.
"Nah itu menjadi penting," pungkasnya.