Ia kemudian menceritakan bagaimana dirinya menjalani profesi jurnalistik sejak 1991. Saat itu, pekerjaan wartawan tidak ditopang telepon pintar, kamera digital, maupun internet seperti sekarang.

 

Menulis berita dilakukan menggunakan mesin ketik. Untuk mengambil gambar, ia menggunakan kamera Sony. Bahkan, berita yang telah ditulis masih harus melalui proses pemeriksaan dan dibawa ke sejumlah pihak.

 

“Saya berkecimpung di dunia jurnalistik sejak 1991. Dulu untuk menulis berita saya menggunakan mesin ketik dan kamera Sony. Berita yang sudah ditulis harus ditunjukkan kepada PWI dan Kodim 0827 Sumenep atau Sospol,” ujarnya.

 

Perubahan teknologi, kata Ibnu, memang telah memangkas banyak tahapan dalam kerja jurnalistik. Namun, kemudahan perangkat tidak otomatis membuat sebuah tulisan menjadi produk jurnalistik yang berkualitas.

 

Justru di tengah derasnya arus informasi, wartawan dituntut semakin mampu memilah fakta, menyusun informasi, melakukan verifikasi, serta menghasilkan berita yang memenuhi standar jurnalistik.