Protes Denny Cagur Soal Rp 223 T Anggaran MBG, Pendidikan Jadi Tumbal
Anggota Komisi X DPR RI Denny Cagur menekankan pentingnya transparansi penggunaan Rp 223 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis yang disebut bersumber dari anggaran pendidikan Rp 769 triliun, agar kualitas pendidikan dasar dan kesejahteraan guru tidak terdampak.
ESTORIA – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Denny Cagur, menaruh perhatian serius terhadap sumber pendanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut mencapai sekitar Rp 223 triliun.
Anggaran tersebut, menurut informasi yang ia terima, berasal dari total dana pendidikan nasional yang nilainya mencapai Rp 769 triliun.
Denny menilai, transparansi mengenai komposisi dan alokasi anggaran menjadi hal mendasar yang tidak boleh diabaikan.
Ia mengingatkan agar publik memperoleh penjelasan yang utuh, terutama jika dana yang digunakan bersumber dari pos pendidikan yang selama ini diperuntukkan bagi peningkatan mutu belajar-mengajar.
Menurutnya, keterbukaan informasi sangat penting agar masyarakat dapat ikut mengawasi jalannya kebijakan tersebut.
Ia tidak ingin program yang digagas dengan tujuan baik justru berdampak pada berkurangnya kualitas layanan pendidikan dasar.
“Rakyat harus tahu agar kita bisa bersama-sama mengawasi. Jangan sampai program baru ini justru mengurangi esensi prioritas pendidikan anak bangsa,” ujar Denny, Selasa (3/3).
Sebagai anggota Komisi X yang membidangi pendidikan, kebudayaan, riset, dan olahraga, Denny menekankan bahwa anggaran pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun sumber daya manusia.
Ia mengingatkan bahwa dana pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik sekolah, tetapi juga menyangkut kesejahteraan guru, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, serta pemerataan fasilitas belajar di berbagai daerah.
Ia berharap kebijakan pengalokasian dana untuk program MBG benar-benar dikaji secara matang agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan sektor pendidikan.
Baginya, kualitas pendidikan dasar harus tetap menjadi prioritas utama, terlebih dalam upaya mencetak generasi yang unggul dan berdaya saing.
Denny juga menyampaikan harapannya agar kesejahteraan guru di Indonesia semakin diperhatikan.
Ia menegaskan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan untuk pendidikan semestinya mampu menyentuh berbagai lini penting yang berkontribusi langsung terhadap kemajuan dunia pendidikan.
Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dukungan anggaran yang tepat sasaran.
Ia ingin memastikan bahwa kebijakan baru tidak menggeser fokus utama pendidikan, melainkan berjalan selaras dan saling menguatkan.
Denny mendorong adanya penjelasan yang komprehensif dari pemerintah terkait skema pendanaan MBG, sehingga masyarakat memperoleh gambaran yang jelas mengenai arah dan prioritas penggunaan anggaran pendidikan ke depan. (*)



