Ia tidak pernah meminta perlakuan khusus. Ia juga tidak menggunakan statusnya sebagai anak Kartini untuk mendapatkan kemudahan hidup.
Padahal, jika menginginkannya, Soesalit bisa saja memperoleh perhatian dan bantuan dari banyak pihak hanya dengan memperkenalkan dirinya sebagai putra tunggal Kartini. Nama besar sang ibu sudah cukup untuk membuka banyak pintu yang tertutup bagi orang lain.
Tetapi prinsipnya tidak pernah goyah
Ia memilih berdiri di atas kemampuannya sendiri, bukan di atas ketenaran keluarganya.
Pilihan itu memang tidak membuatnya hidup bergelimang kemewahan. Sebaliknya, Soesalit menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dalam kesederhanaan. Namun justru di situlah letak kebesarannya.
Ketika banyak orang berlomba memanfaatkan nama besar keluarga untuk meraih keuntungan, Soesalit menunjukkan bahwa kehormatan tidak selalu lahir dari warisan. Kadang, kehormatan justru lahir dari keberanian untuk berjalan dengan kaki sendiri.
Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat akhirnya wafat pada 17 Maret 1962. Namanya mungkin tidak setenar Kartini, tetapi kisah hidupnya meninggalkan pelajaran penting tentang integritas, pengabdian, dan keteguhan memegang prinsip hingga akhir hayat.