estoria.id - Setiap 28 Oktober, kita memperingati Sumpah Pemuda dengan mengenang keberanian anak-anak muda yang menyatukan cita-cita kebangsaan di tengah penjajahan. Pada 1928, mereka datang dari latar belakang yang berbeda, membawa identitas dan kepentingan masing-masing, tetapi memilih untuk berdiri di atas tujuan yang lebih besar: Indonesia. Mereka belum menikmati kemerdekaan, tetapi sudah berani membayangkan masa depan sebuah bangsa.
Hampir satu abad kemudian, kita hidup dalam keadaan yang berbeda. Pemuda hari ini memiliki akses pendidikan yang lebih luas, teknologi yang semakin canggih, dan kesempatan untuk terhubung dengan dunia tanpa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Namun, kemudahan itu menghadirkan pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah bertambahnya akses juga membuat generasi muda semakin siap menghadapi zamannya?
Sebagai dosen, saya melihat pertanyaan ini penting untuk dibicarakan. Sebab, masa depan pemuda bukan sesuatu yang hanya bisa kita amati dari kejauhan. Ia hadir di ruang kelas, dalam percakapan dengan mahasiswa, dalam cara mereka memandang pendidikan, dan dalam keputusan yang mereka ambil setelah perkuliahan selesai.
Saya tidak bermaksud menggeneralisasi mahasiswa hari ini. Ada banyak anak muda yang tekun belajar, aktif membangun gagasan, dan berusaha memberikan manfaat bagi lingkungannya. Namun, kita juga perlu berani membicarakan kecenderungan yang patut menjadi perhatian: pendidikan terkadang dipersempit menjadi urusan memperoleh nilai, menyelesaikan tugas, mendapatkan ijazah, lalu mencari pekerjaan. Padahal, perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat seseorang belajar memahami persoalan, menguji pemikiran, mempertanyakan keadaan, dan mempersiapkan diri untuk mengambil peran di tengah masyarakat.
Di sinilah saya melihat perbedaan tantangan antara pemuda 1928 dan pemuda 2026. Generasi 1928 menghadapi keterbatasan akses dan tekanan kolonial, tetapi mampu membangun kesadaran kolektif untuk memperjuangkan kemerdekaan. Generasi 2026 memiliki lebih banyak sumber pengetahuan, tetapi harus menghadapi tantangan untuk mengolah pengetahuan itu menjadi kemampuan dan tindakan nyata. Dahulu, informasi sulit diperoleh. Sekarang, informasi tersedia di mana-mana, tetapi kemampuan memahami dan mengujinya justru semakin penting.