estoria.id - Tiga jari yang terangkat ke udara kini bukan sekadar gestur tangan. Di tengah gelombang demonstrasi dan riuh percakapan di media sosial, simbol tersebut kembali mencuri perhatian publik. Maknanya pun berkembang, dari pesan persatuan politik hingga ekspresi protes terhadap ketidakadilan.
Gestur salam tiga jari ramai diperbincangkan menjelang demonstrasi pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Sejumlah unggahan di media sosial memperlihatkan simbol itu digunakan sebagai bentuk ekspresi dan pesan perlawanan.
Namun, salam tiga jari bukan simbol yang lahir dalam satu konteks. Dalam perjalanan penggunaannya, gestur ini berulang kali mengalami perubahan makna, mengikuti situasi politik dan gerakan sosial yang melatarbelakanginya.
Salah satu referensi budaya populer yang membuat salam tiga jari dikenal luas adalah serial novel dan film The Hunger Games. Dalam kisah tersebut, masyarakat Distrik 12 menggunakan gestur tiga jari sebagai tanda penghormatan, ungkapan duka cita, sekaligus simbol perlawanan terhadap kekuasaan Capitol yang otoriter.
Simbol yang semula hadir dalam dunia fiksi itu kemudian dikenal sebagai salah satu bentuk ekspresi solidaritas dan perlawanan dalam berbagai gerakan sosial di dunia.
Dari Persatuan Politik ke Simbol Perlawanan
Di Indonesia, salam tiga jari mulai mendapat perhatian nasional setelah Pemilihan Presiden 2014. Mengutip pemberitaan Espos.id sebagaimana dilansir RRI, simbol tersebut digunakan dalam acara Syukuran Rakyat Salam 3 Jari di Monas, Jakarta, pada 20 Oktober 2014, bertepatan dengan pelantikan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Kala itu, angka tiga merujuk pada sila ketiga Pancasila, yakni Persatuan Indonesia. Pesan yang ingin disampaikan adalah pentingnya merajut kembali persatuan masyarakat setelah kompetisi politik yang tajam selama pemilihan presiden.
Kontestasi Pilpres 2014 yang mempertemukan dua pasangan calon membuat angka satu dan dua identik dengan masing-masing pasangan. Salam tiga jari kemudian hadir dengan pesan berbeda: mengajak masyarakat melampaui sekat persaingan dan kembali menempatkan persatuan sebagai kepentingan bersama.
Beberapa tahun berselang, simbol yang sama kembali masuk ke panggung politik nasional. Pada Pilpres 2024, pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD menggunakan salam tiga jari sebagai identitas kampanye, sejalan dengan nomor urut tiga yang mereka peroleh.
Dalam konteks tersebut, gestur tiga jari menjadi penanda politik elektoral. Penggunaannya berkaitan dengan identitas pasangan calon dan pesan kampanye yang ingin disampaikan kepada pemilih.
Akan tetapi, perjalanan simbol itu tidak berhenti di bilik suara maupun panggung kampanye.
Ketika Tiga Jari Menjadi Bahasa Protes
Pada 2026, salam tiga jari kembali memperoleh konteks baru ketika digunakan oleh gerakan mahasiswa, termasuk elemen Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), serta kelompok masyarakat sipil dalam aksi demonstrasi.
Kali ini, maknanya tidak lagi semata-mata merujuk pada sila ketiga Pancasila atau nomor urut pasangan calon. Gestur tersebut diadopsi sebagai simbol protes, solidaritas, kebebasan sipil, dan penolakan terhadap ketidakadilan maupun tindakan kekuasaan yang dinilai sewenang-wenang.
Pemaknaan ini memiliki kedekatan dengan tradisi Three-Finger Salute yang terinspirasi dari The Hunger Games. Dalam konteks gerakan sosial, tiga jari dapat menjadi cara untuk menyampaikan sikap tanpa harus mengandalkan rangkaian kata panjang.
Ketika diangkat bersama-sama di tengah demonstrasi, gestur sederhana itu dapat menyampaikan pesan yang lebih luas: adanya keresahan, tuntutan akan perubahan, serta keinginan agar suara masyarakat didengar.
Meski demikian, makna salam tiga jari tidak selalu seragam. Konteks penggunaan, pihak yang mengangkatnya, dan pesan yang menyertainya tetap menjadi kunci untuk memahami maksud simbol tersebut.
Simbol Berganti, Pesan Publik Terus Bergerak
Perjalanan salam tiga jari di Indonesia memperlihatkan bagaimana sebuah simbol dapat hidup melampaui tujuan awalnya. Pada 2014, ia menjadi seruan persatuan setelah persaingan politik. Pada 2024, gestur yang sama tampil sebagai identitas kampanye. Sementara pada 2026, simbol tersebut kembali muncul dalam ruang demonstrasi dengan penekanan pada protes dan kebebasan sipil.
Perubahan itu menunjukkan bahwa simbol politik dan sosial tidak selalu memiliki makna yang tetap. Masyarakat dapat memberi arti baru terhadap sebuah gestur sesuai pengalaman, situasi, dan persoalan yang sedang mereka hadapi.
Di tengah demonstrasi dan perdebatan publik, tiga jari yang terangkat akhirnya menjadi lebih dari sekadar gerakan tangan. Ia menjadi medium untuk menyampaikan sikap, membangun solidaritas, dan mengekspresikan tuntutan.
Sebab, terkadang, sebuah simbol mampu menyampaikan pesan yang sulit dirangkum dalam banyak kalimat. Namun, untuk memahami pesan sesungguhnya, publik tetap perlu melihat konteks dan tuntutan yang menyertainya, bukan hanya gestur yang tampak di permukaan.